Kantin
(Kajian Rutin) LDK pekan ini mengangkat tema yang akhir-akhir ini
sedang hangat diperbincangkan oleh masyarakat kita. ‘Miss World Prestasi
atau Eksploitasi?’ Itulah tema yang diangkat pada kajian sore hari ini.
Acara kajian rutin kali ini dimoderatori
oleh Ita Berliani (Kaput FIS 2013) dengan pembicara handal dibidangnya
yaitu Nunu Karlina dari CSG (the Centre of Gender Studies).
Ka Nunu (panggilan akrab kami) mengawali pembahasan sore ini dengan
memberikan pertanyaan kepada peserta mengenai apakah Miss World Prestasi
atau Eksploitasi? Ada 3 mahasiswa yang memberikan tanggapan mengenai
acara tersebut. “Miss World merupakan sebuah ekSploitasi yang dikemas
prestasi” tutur Tri mahasiswi FIP. Kemudian pendapat dari peserta
laki-laki “Miss World sebuah eksploitasi seperti peribahasa ada udang
dibalik batu” ujar Deden Kurniawan. Disambung oleh Oky seorang mahasiswa
FMIPA “Miss World tidak hanya menilai intelegensinya saja tapi
bentuk-bentuk fisiknya juga, dan itu tidak sesuai dengan budaya
Indonesia.”
Mari melihat sekilas sejarah dari Miss
World. Kontes kecantikan modern pertama kali digelar di Amerika pada
tahun 1854. Namun, kontes ini ternyata diprotes masyarakat Amerika
hingga akhirnya kontes tidak berlanjut. Fakta uniknya, panitia kontes
kecantikan pertama di dunia tersebut adalah panitia yang sebelumnya
sukses menggelar kontes kecantikan anjing dan burung. Lalu sukses kontes
kecantikan hewan tersebut pun akhirnya diuji-coba untuk manusia.
Meskipun menuai kontroversi, pagelaran kontes kecantikan di dunia tidak
serta-merta mati. Sekitar tahun 1951 di Inggris, Eric Morley menggelar
kontes kecantikan internasional untuk pertama kali. Kontes ini awalnya
bernama Bikini Contest Festival, kemudian berganti nama menjadi Miss
World. Jadi, Miss World adalah kontes kecantikan termasyhur yang tertua
di dunia karena mampu menyedot perhatian penonton yang jumlahnya
mengalahkan event Olimpiade dan Piala Dunia. Uniknya pada tahun 1970 di
Inggris berhasil menggagalkan Miss World, siapa yang menggagalkannya?
Justru feminis. Untuk masalah Miss World feminis pun tidak menyetujui
karena hanya mengeksploitasi perempuan. Acara Miss World tersebut
digagalkan dengan BOM tomat, tepung dan telur saat perhelatan acara
tersebut berlangsung.
Demi meredam protes dari berbagai
kalangan yang menilai kontes ini hanya mengeksploitasi perempuan,
dimunculkanlah konsep 3B yakni Brain (kecerdasan), Beauty (kecantikan), dan Behavior (Kepribadian). Lalu berapa persen Brain (kecerdasan) mendapat porsi untuk penilaian? Mari kita lihat dari beberapa fakta.
Miss Inggris Lesley Langley memenangkan
Miss World pada tahun 1965, beberapa hari setelah menang menjadi Miss
World beredar foto-foto bugilnya, publik di Inggris pun mengecam. Itu
berarti dimana letak good behaviornya? Pemenang Miss World tidak
otomatis memiliki good behaviornya. Lili Chen Miss China seorang
penyanyi dan aktris berharap menjadi orang pertama China yang memenangi
kontes Miss Universe tahun 2004. Tetapi permohonannya ditolak oleh
pejabat kompetisi China karena dia seorang transeksual. Marjorie Wallace
dari Amerika yang menang di ajang Miss World 1973. Tapi, tiga bulan
setelah dinobatkan jadi Ratu Dunia, gelarnya dicabut lantaran berkencan
dengan terlalu banyak pria. Dimana good behaviornya?
Ada orang-orang yang mengedepankan bahwa
Indonesia bukanlah negara agama tetapi negara hukum, maka jika kita
faham dengan pancasila dan UUD 1945 kegiatan Miss world ini telah
melanggar. Meskipun Miss World memakai cadar maka kita pun akan
memboikotnya.
Bentuk eksploitasi dari kegiatan Miss
World ini adalah perempuan seperti komoditas/barang, sebenarnya siapa
yang diuntungkan dari Miss World? Benarkah Indonesia? Kontes-kontes
apapun pasti akan ada kosmetik, gaun malam, sepatu, handuk dll.
Sebenarnya yang dijual adalah barang-barang tapi yang menjadi modelnya
adalah perempuan. Apakah begitu cara memuliakan perempuan? Kontes
kecantikan ini pada realitasnya ekploitasi pada fisik perempuan.
Dr. Daoed Joesoef, saat menjadi Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan periode 1977-1982, menyatakan secara terbuka
penolakannya terhadap segala jenis pemilihan kontes kecantikan yang
mengeksplotiasi aurat itu. Ia berpendapat bahwa kontes ratu-ratuan
sedunia adalah suatu penipuan, disamping pelecehan terhadap hakekat
perempuan dari mahluk manusia. Tujuan kegiatan ini adalah tidak lain
meraup keuntungan bisnis dari perusahan kosmetika, pakaian renang, rumah
mode, salon kecantikan dll, dengan mengeksploitasi kecantikan yang
sekaligus merupakan kelemahan perempuan, insting primitif dan nafsu
elementer laki-laki dan kebutuhan akan uang untuk bisa hidup mewah.
Wanita yang terjebak dalam kontes ratu-ratuan tidak menyadari dirinya
telah terlena, terbius, tidak menyadari bahaya yang mengancam dirinya,
itu ibarat perokok atau pemadat yang melupakan begitu saja nikotin atau
candu yang jelas merusak kesehatannya. Kritikan tersebut ia tulis dalam
buku memoarnya (Dia dan Aku : Memoar Pencari Kebenaran, 2006).
Inilah lingkaran setan, secara naluriah
perempuan ada bakat menunjukkan diri, didukung dengan nafsunya
laki-laki, didukung pula akan kebutuhan uang. Jadilah bisnis yang
bernama Miss World.
Jadi, lakukan apa yang bisa kita
lakukan, terlebih tugas kita sebagai para pendidik untuk memberikan
edukasi/pendidikan ke masyarakat, anak didik kita dan orang-orang
sekitar. Dapat juga dengan melakukan aksi dan melobi ke tokoh-tokoh
untuk meminta dukungan. Akhirnya.. kita hanya mampu berusaha dan Allah
yang menentukan. Yang paling penting dan senjatanya kaum muslim adalah
kita berdoa.
Batalkan Miss World
Allahu Akbar
Dainur Pribadi Carnadi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar