Sabtu, 21 September 2013

Miss World Prestasi atau Eksploitasi?

Kantin (Kajian Rutin) LDK pekan ini mengangkat tema yang akhir-akhir ini sedang hangat diperbincangkan oleh masyarakat kita. ‘Miss World Prestasi atau Eksploitasi?’ Itulah tema yang diangkat pada kajian sore hari ini.
 
Acara kajian rutin kali ini dimoderatori oleh Ita Berliani (Kaput FIS 2013) dengan pembicara handal dibidangnya yaitu Nunu Karlina dari CSG (the Centre of Gender Studies).

Ka Nunu (panggilan akrab kami) mengawali pembahasan sore ini dengan memberikan pertanyaan kepada peserta mengenai apakah Miss World Prestasi atau Eksploitasi? Ada 3 mahasiswa yang memberikan tanggapan mengenai acara tersebut. “Miss World merupakan sebuah ekSploitasi yang dikemas prestasi” tutur Tri mahasiswi FIP. Kemudian pendapat dari peserta laki-laki “Miss World sebuah eksploitasi seperti peribahasa ada udang dibalik batu” ujar Deden Kurniawan. Disambung oleh Oky seorang mahasiswa FMIPA “Miss World tidak hanya menilai intelegensinya saja tapi bentuk-bentuk fisiknya juga, dan itu tidak sesuai dengan budaya Indonesia.”

Mari melihat sekilas sejarah dari Miss World. Kontes kecantikan modern pertama kali digelar di Amerika pada tahun 1854. Namun, kontes ini ternyata diprotes masyarakat Amerika hingga akhirnya kontes tidak berlanjut. Fakta uniknya, panitia kontes kecantikan pertama di dunia tersebut adalah panitia yang sebelumnya sukses menggelar kontes kecantikan anjing dan burung. Lalu sukses kontes kecantikan hewan tersebut pun akhirnya diuji-coba untuk manusia. Meskipun menuai kontroversi, pagelaran kontes kecantikan di dunia tidak serta-merta mati. Sekitar tahun 1951 di Inggris, Eric Morley menggelar kontes kecantikan internasional untuk pertama kali. Kontes ini awalnya bernama Bikini Contest Festival, kemudian berganti nama menjadi Miss World. Jadi, Miss World adalah kontes kecantikan termasyhur yang tertua di dunia karena mampu menyedot perhatian penonton yang jumlahnya mengalahkan event Olimpiade dan Piala Dunia. Uniknya pada tahun 1970 di Inggris berhasil menggagalkan Miss World, siapa yang menggagalkannya? Justru feminis. Untuk masalah Miss World feminis pun tidak menyetujui karena hanya mengeksploitasi perempuan. Acara Miss World tersebut digagalkan dengan BOM tomat, tepung dan telur saat perhelatan acara tersebut berlangsung.

Demi meredam protes dari berbagai kalangan yang menilai kontes ini hanya mengeksploitasi perempuan, dimunculkanlah konsep 3B yakni Brain (kecerdasan), Beauty (kecantikan), dan Behavior (Kepribadian). Lalu berapa persen Brain (kecerdasan) mendapat porsi untuk penilaian? Mari kita lihat dari beberapa fakta.
Miss Inggris Lesley Langley memenangkan Miss World pada tahun 1965, beberapa hari setelah menang menjadi Miss World beredar foto-foto bugilnya, publik di Inggris pun mengecam. Itu berarti dimana letak good behaviornya? Pemenang Miss World tidak otomatis memiliki good behaviornya. Lili Chen Miss China seorang penyanyi dan aktris  berharap menjadi orang pertama China yang memenangi kontes Miss Universe tahun 2004. Tetapi permohonannya ditolak oleh pejabat kompetisi China karena dia seorang transeksual. Marjorie Wallace dari Amerika yang menang di ajang Miss World 1973. Tapi, tiga bulan setelah dinobatkan jadi Ratu Dunia, gelarnya dicabut lantaran berkencan dengan terlalu banyak pria. Dimana good behaviornya?
Ada orang-orang yang mengedepankan bahwa Indonesia bukanlah negara agama tetapi negara hukum, maka jika kita faham dengan pancasila dan UUD 1945 kegiatan Miss world ini telah melanggar. Meskipun Miss World memakai cadar maka kita pun akan memboikotnya.

Bentuk eksploitasi dari kegiatan Miss World ini adalah perempuan seperti komoditas/barang, sebenarnya siapa yang diuntungkan dari Miss World? Benarkah Indonesia? Kontes-kontes apapun pasti akan ada kosmetik, gaun malam, sepatu, handuk dll. Sebenarnya yang dijual adalah barang-barang tapi yang menjadi modelnya adalah perempuan. Apakah begitu cara memuliakan perempuan? Kontes kecantikan ini pada realitasnya ekploitasi pada fisik perempuan.

Dr. Daoed Joesoef, saat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1977-1982, menyatakan secara terbuka penolakannya terhadap segala jenis pemilihan kontes kecantikan yang mengeksplotiasi aurat itu. Ia berpendapat bahwa kontes ratu-ratuan sedunia adalah suatu penipuan, disamping pelecehan terhadap hakekat perempuan dari mahluk manusia. Tujuan kegiatan ini adalah tidak lain meraup keuntungan bisnis dari perusahan kosmetika, pakaian renang, rumah mode, salon kecantikan dll, dengan mengeksploitasi kecantikan yang sekaligus merupakan kelemahan perempuan, insting primitif dan nafsu elementer laki-laki dan kebutuhan akan uang untuk bisa hidup mewah. Wanita yang terjebak dalam kontes ratu-ratuan tidak menyadari dirinya telah terlena, terbius, tidak menyadari bahaya yang mengancam dirinya, itu ibarat perokok atau pemadat yang melupakan begitu saja nikotin atau candu yang jelas merusak kesehatannya. Kritikan tersebut ia tulis dalam buku memoarnya (Dia dan Aku : Memoar Pencari Kebenaran, 2006).

Inilah lingkaran setan, secara naluriah perempuan ada bakat menunjukkan diri, didukung dengan nafsunya laki-laki, didukung pula akan kebutuhan uang. Jadilah bisnis yang bernama Miss World.

Jadi, lakukan apa yang bisa kita lakukan, terlebih tugas kita sebagai para pendidik untuk memberikan edukasi/pendidikan ke masyarakat, anak didik kita dan orang-orang sekitar. Dapat juga dengan melakukan aksi dan melobi ke tokoh-tokoh untuk meminta dukungan. Akhirnya.. kita hanya mampu berusaha dan Allah yang menentukan. Yang paling penting dan senjatanya kaum muslim adalah kita berdoa.

Batalkan Miss World

Allahu Akbar



Dainur Pribadi Carnadi