Senin, 14 Mei 2012

Resume Buku Fiqih Da'wah


Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘Ala Aalihi wa Ashhabihi wa Man waalah, wa ba’d

Bulan ini Alhamdulillaah mendapatkan kesempatan untuk kembali membuat resume buku, dan kali ini yang akan diresume adalah buku “Fiqih Da’wah, Maudhu’at fi ad-Da’wa al-Harakah” yang ditulis oleh Ustadz Sayyid Quthb.

Pada buku Fikih Dakwah ini akan kita dapati beberapa point-point penting yaitu, pertama Alquraan Sebagai Pedoman Dakwah, kedua Ibadah, ketiga Perang Uhud, keempat Doktrin Pergerakan dalam Sejarah Manusia, kelima Bentuk Konsep Gerakan Islam Langkah-langkahnya dan Tingkatannya, keenam Puncak Gerakan, ketujuh Batas Hubungan Terakhir Antara Masyarakat Islam dan Ahli Kitab, kedelapan Bekal Perjalanan.

Insyaa Allah disini yang akan diresume atau mungkin lebih tepatnya merangkum :D buku Fikih Da’wah pada bagian pertama dan kedua.

1. Alquraan Sebagai Pedoman Dakwah

Alquraan merupakan sebuah kitab dakwah. Yang memiliki ruh pembangkit. Yang berfungsi sebagai penguat. Yang menjadi tempat berpijak. Yang berperan sebagai penjaga, penerang dan penjelas. Yang merupakan suatu undang-undang dan konsep-konsep global. Dan merupakan tempat kembali satu-satunya bagi para penyeru dakwah dalam mengambil rujukan dalam melakukan kegiatan dakwah, dan dalam menyusun suatu konsep gerakan dakwah selanjutnya.

Alquraan memiliki potensi yang dinamis sebagaimana alam semesta ini. Alam merupakan kitab Allah yang dapat dilihat, sedangkan Alquraan merupakan kitab Allah yang dapat dibaca. Keduanya merupakan satu kesaksian dan bukti atas dzat Pencipta, sebagaimana keduanya merupakan wujud kreasi (ciptaan) di alam ini dengan segala rahasianya, yang senantiasa bergerak dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan apa yang telah ditentukan oleh Allah.

Dan Alquraan tetap berbicara pada keaslian dan hakikatnya, tidak pernah mengalami perubahan dan pergantian didalamnya. Karena itu Alquraan memiliki potensi besar dalam menghadapi kenyataan kehidupan sekarang dan masa akan datang.   

            Alquraan Sebagai Petunjuk. Sesungguhnya Alquraan ini merupakan pandangan yang dapat memberikan petunjuk dan merupakan rahmat yang melimpah ruah buat orang-orang yang mempercayainya. Dan kebaikan yang ditimbulkan oleh Alquraan secara menyeluruh akan tetap terjaga.

“Alquraan ini adalah merupakan bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, (Juga sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-A’raf, 7:203)

Alquraan akan tetap menjadi naungan bagi segala usaha yang dilakukan oleh kaum Muslimin. Ini adalah berkat kebenaran kitab suci itu sendiri. Alquraan adalah satu-satunya sumber bimbingan dan penyuluhan melalui Alquraan itulah yang dapat menanti janji Allah untuk mewujudkan satu kemenangan dan sanggup mengatasi segala kemungkinan tipu daya yang memojokkan, baik berupa pembunuhan, peperangan ataupun kerusakan lainnya. Dan sekali Alquraan ini ada, selamanya akan tetap ada.

Kebenaran Alquraan dan Pandangan Ilmu Pengetahuan. Kebenaran Alquraan adalah kebenaran terakhir yang qath’i (pasti) dan mutlak. Sedangkan apa yang dicapai manusia dalam pembahasannya semata-mata hanyalah sebagai sarana baginya yang pada hakikatnya bukanlah merupakan “kebenaran akhir” dan bukan “kebenaran qath’i”.

Kasih Sayang Se-Akidah. Sesungguhnya akidah merupakan satu kesatuan dari ketentuan-ketentuan manusia yang prinsip yang dapat membedakannya dari alam binatang.


2. IBADAH

Ibadah Hanya Kepada Allah. Sesungguhnya tauhid uluhiyah (ketuhanan), tauhid Rububiyah (ketuhanan), tauhid qawamah (keteguhan, kekokohan), tauhid mashdar syari’ah (mentauhidkan sumber hukum) dan mentauhidkan arah yang mengharuskan manusia beragama dengan agama yang sempurna (Islam). Adalah menyebabkan para Rasul berhak diutus untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan dan dakwah demi untuk mewujudkan ketauhidan tersebut.

Bahwa katauhidan beribadah dan beragama kepada Allah semata, itu berarti menolak beribadah kepada selain Allah, yang memiliki konsekuensi besar agar ia melakukan usaha untuk memelihara manusia dari melakukan pengorbanan terhadap tuhan-tuhan paslu itu, dan agar ia dapat melakukan konsentrasi penuh untuk membangun bumi ini, juga memperbaiki dan meningkatkan taraf kehidupannya penghuni bumi ini.

Sebenarnya telah jelas ketentuan-ketentuan yang ditujukan oleh Alquraan secara global, bahwa permasalahan-permasalahan beragama dan mengikuti pencipta hukum yang menjelaskan mengenai ibadah adalah permasalahan Akidah, Iman dan Islam. Bukan permasalahan paham atau politik atau undang-undang.


Fikih Harakah dan Fikih Auraq (Fikih Pergerakan dan Fikih Stereotype). Dewasa ini orang-orang mengambil nash-nash dan hukum-hukum yang telah dibukukan, tanpa mengetahui kedua hakikat tersebut dan tanpa melihat situasi dan kondisi yang menyebabkan nash-nash itu diturunkan serta perkembangan hukum-hukumnya. Sedang hukum-hukum itu sendiri dihidupkan dan dipakai oleh orang-orang dalam pelaksanaannya.

Fikih Harakah (Fikih Pergerakan) secara mendasar berbeda sekali dengan Fikih Auraq (“Fikih Stereotype”, “Fikih Kerobot”), yang asal pengambilan dan tempat pijaknya secara bersama-sama adalah nash-nash, sedang fikih auraq hanya mengambil dari nash-nash yang ada.

Inilah satu-satunya jalan; tidak ada disana jalan lain, juga tidak ada disana jalan yang lebih mudah untuk melakukan perubahan/perombakan terhadap rakyat secara menyeluruh dengan Islam, sejak awal kemunculan dakwah dengan lisan dan dengan penjelasan hukum-hukum islam. Namun, ini hanyalah sebagai “cita-cita” belaka! Sebab, rakyat masih tetap tidak mau dirubah/dipindah/dibawa dari kejahiliyahan dan menyembah ssetan-setan, kepada Islam yang hanya menyembah Allah Yang Maha Esa, kecuali harus melalui jalan panjang yang didalamnya dakwah Islam tetap berjalan dan diserukan dalam setiap kesempatan.


“Yaitu, dimulai dari individu, lalu diikuti oleh generasi perintis/penerus. Generasi perintis/penerus ini kemudian bergerak menghadapi kejahiliyahan untuk membantu apa yang perlu dibantu, sehingga Allah menghukumi diantara mereka dan kaumnya dengan kebenaran, dan memberikan kemungkinan-kemungkinan kepada generasi perintis/penerus diatas bumi, dan kemudian

“Manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong.”
(QS. An-Nashr, 100:2)

Dan agama Allah itu merupakan konsep Syariat dan undang-undang yang tidak merelakan manusia beragama dengan selainnya:

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka ia tidak akan diterima (agama itu) daripadanya”
(QS. Ali Imran,3:85)
 _______________________________________________________

Alquraan dan Ash Sunnah merupakan pedoman kita dalam berdakwah. Alquraan sebagai petunjuk yang merupakan sumber ilmu pengetahuan, pendidkan dan pengarahan. Sehingga menjadi tempat kembali bagi penyeru dakwah dalam mengambil rujukan untuk melakukan kerja-kerja besar dakwahnya. Yang senantiasa dekat dengan Alquraan  membacanya, menekuninya, mentadaburinya dan mengamalkannya, sehingga lahirlah pribadi-pribadi tangguh yang Qurani. Dakwah kita menyeru manusia kepada tauhid, bahwa inti dari ajaran islam adalah mentauhidkan Allah, yaitu meng-ESA-kan Allah, beribadah hanya kepada Allah Ta’ala.

Allahu ghoyatuna
ArRasul qudwatuna
Alquraan dusturuna
Al jihadu sabiluna
Al mautu fisabilillaah

Semoga yang sedikit ini dapat bermanfaat dan dapat menjadi setruman untuk kita senantiasa belajar dan haus akan ilmu pengetahuan, berharap pembaca dapat membaca utuh buku yang dapat menginspirasi dan menggerakkan ini, baik dengan membelinya, meminjamnya maupun mencari E-booknya.
Wallaahu a’lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar