Surat At-Tahrim ayat 6-9
Memelihara
Diri dan Keluarga dari Siksaan Neraka
Dalam pengaruh
kasus yang sangat mendalam pada jiwa-jiwa kaum muslimin ini, Al-Quran
mewanti-wanti orang-orang yang beriman agar menunaikan kewajiban mereka dalam
rumah tangga mereka baik yang menyangkut pendidikan, pengarahan, maupun
peringatan. Sehingga, mereka dapat menyelamatkan diri mereka dan keluarga
mereka dari api neraka. Al-Quran juga menggambarkan tentang beberapa peristiwa
yang terjadi dalam neraka dan keadaan orang-orang kafir didalamnya. Dan, dalam
pengarahan dan ajakan kepada tobat yang muncul dalam arahan tentang kasus
diatas, redaksi ayat menyerukan kepada orang-orang yang beriman untuk bertobat.
Ia juga menggambarkan tentang surga yang menanti orang-orang yang bertobat.
Kemudian ia mengajak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berjihad melawan
orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Inilah bagian kedua dari kandungan
surah ini.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا
أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا
مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّـهَ مَا أَمَرَهُمْ
وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ ﴿٦﴾
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَعْتَذِرُوا
الْيَوْمَ ۖ إِنَّمَا
تُجْزَوْنَ مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ﴿٧﴾ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّـهِ تَوْبَةً
نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ
وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي
اللَّـهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ ۖ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ
يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ
قَدِيرٌ ﴿٨﴾ يَا
أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ ﴿٩﴾
Ayat 6: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah
dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan
batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai
Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan
apa yang diperintahkan.”
Ayat 7: “Hai orang-orang kafir, janganlah kamu
mengemukakan uzur pada hari ini. Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan menurut
apa yang kamu kerjakan.”
Ayat 8: “Hai
orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa
(taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi
kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan
orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan
dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami,
sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau
Maha Kuasa atas segala sesuatu".
Ayat 9: “Hai Nabi,
perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah
terhadap mereka. Tempat mereka adalah jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya
tempat kembali. “
Sesungguhnya
beban tanggungjawab seorang mukmin dalam dirinya dan kelurganya merupakan beban
yang sangat berat dan menakutkan. Sebab, neraka telah menantinya disana, dan
dia beserta keluarganya terancam dengannya. Maka, merupakan kewajibannya
membentengi dirinya dan kelurganya dari neraka ini yang selalu mengintai dan
menantinya.
Sesungguhnya
ia adalah neraka dan api yang menyala-nyala serta membakar hangus,
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. . .”
Manusia
didalam neraka itu sama persis dengan batu; dalam kehinaan batu, dalam nilai
batu yang murah dan rendah, dan dalam kondisi batu yang terabaikan tanpa
penghargaan dan perhatian sama sekali. Alangkah sadis dan panasnya api neraka
yang dinyalakan bersama dengan batu-batu! Alangkah pedihnya azab yang dihimpun
dengan kerasnya sengatan kehinaan dan kerendahan! Setiap yang ada didalamnya
dan setiap yang berhubungan dengan sangat seram dan menakutkan,
“. . .Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang
keras, . . “
Tabiat para malaikat itu sesuai dengan tabiat azab yang
diperintahkan dan diserahkan kepada mereka untuk menimpakannya.
“. . .yang tidak
mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)
Diantara
karakter mereka adalah ketaatan mutlak terhadap perintah Allah atas mereka.
Dan, diantara karakter mereka adalah mampu melaksanakan segala yang
diperintahkan kepada mereka oleh Allah. Mereka dengan segala tabiat bengis,
kejam dan keras mereka diserahkan tugas untuk melaksanakan azab neraka yang
keras dan kejam. Maka hendaklah setiap
mukmin melindungi dirinya dan keluarganya dari azab neraka.
Dan merupakan kewajiban setiap mukmin melindungi dan
membentengi dirinya dan keluarganya dari neraka ini, sebelum kesempatan itu
sirna dan sebelum alasan dan uzur itu tidak bermanfaat lagi diutarakan. Lihatlah
betapa banyak orang-orang kafir yang mengemukakan uzur mereka pada saat itu,
padahal mereka sedang berdiri menghadapi azab itu. Sehingga, alasan dan uzur
mereka tidak diterima lagi dan merka pun ditimpa oleh keputusasaan.
“Hai orang-orang kafir, janganlah kamu mengemukakan
uzur pada hari ini. Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan menurut apa yang
kamu kerjakan.” (At-Tahrim: 7)
Jangan lagi kalian beralasan dan
mengutarakan uzur kalian hari ini, karena hari ini bukanlah hari mengemukakan
alasan dan uzur. Namun hari ini adalah hari pembalasan atas apa yang telah
dikerjakan oleh manusia. Dan, kalian telah mengetahui wahai orang-orang kafir
bahwa pembalasan atas kalian adalah neraka ini.
v
Lantas bagaimana
orang-orang yang beriman memelihara diri dan keluarga mereka dari api neraka
ini? Sesungguhnya Al-Quran menjelaskan jalannya dan memberikan harapan yang
sangat mendalam kepada mereka,
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada
Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan
Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah
yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak
menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka
memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan:
"Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami;
Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu". (At-Tahrim:
8)
Inilah jalan itu... tobat nasuha...
yaitu tobat yang menjernihkan hati, membersihkannya, dan memurnikannnya.
Kemudian ia tidak mengkhianatinya dan tidak mencuranginya.
Ia adalah tobat dari maksiat dan
dosa, yang dimulai dengan penyesalan atas segala yang terjadi sebelumnya, dan
berlanjut dengan amal shaleh dan ketaatan. Pada saat itulah hati menjadi jernih,
murni, dan bersih dari noda-noda dosa dan pengaruh-pengaruh maksiat. Kemudian
menganjurkan dan mendorongnya untuk selalu berbuat amal shaleh. Inilah yang
disebutkan sebagi tobat nasuha, yaitu tobat yang selalu mengingatkan hati
setelah itu dan selalu memurnikannya sehingga tidak kembali kepada dosa-dosa.
Jika tobat dilakukan demikian, maka
terbukalah harapan Allah meleburkan dosa-dosa orang-orang yang beriman dan
memasukkan mereka ke dalam surga, pada hari dimana orang-orang kafir terhina
sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Allah tidak menghinakan Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang beriman bersamanya.
Sesungguhnya itu merupakan rangsangan
yang mendalam dan kemuliaan yang besar, ketika Allah memasukkan dan menghimpun
orang-orang yang beriman bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga
menjadikan mereka semua dalam satu barisan yang mendapatkan anugerah kemuliaan
pada hari yang menghinakan orang-orang kafir itu. Kemudian Allah menjadikan
bagi mereka cahaya,
“...sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di
sebelah kanan mereka,...”
Suatu cahaya yang dengannya mereka
dapat mengenal segala sesuatu pada hari yang dahsyat, terguncang, sulit dan
mencekam. Suatu cahaya yang dengannya mereka mendapat petunjuk dalam keramaian
yang tiada tara. Suatu cahaya mereka memancar dihadapan dan disebelah kanan
mereka yang mengantar mereka ke surga pada akhir langkah.
Walaupun dalam keadaan mencekam,
ketakutan, dan kekerasan, mereka tetap diilhami untuk berdoa kehadirat Allah,
“...Sambil
mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan
ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(At-Tahrim: 8)
Ilham doa pada situasi yang mengunci
mulut dan menggugurkan hati itu, merupakan tanda diterimanya doa tersebut.
Pasalnya, tidak mungkin Allah mengilhami doa ini kepada orang-orang yang
beriman, melainkan qadar-Nya telah menetapkan bahwa doa itu pasti makbul dan
mendapati jawaban dari-Nya. Jadi, doa disini merupakan anugerah yang diberikan
Allah atas mereka disamping anugerah Allah dengan kemuliaan dan cahaya.
Jadi, betapa jauhnya perbedaan
antara anugerah ini dengan neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu?!
Sesungguhnya balasan pahala dan
demikian pula pembalasan azab ini, kedua-duanya menggambarkan beban tanggung
jawab seorang mukmin dalam menjaga dirinya dan keluarganya dari api neraka.
Juga dalam mencapai kenikmatan disurga-surga yang mengalir dibawahnya
sungai-sungai.
Dalam nuansa kasus diatas yang
terjadi dalam rumah tangga Rasulullah, kita dapat mengetahui isyarat yang
dimaksudkan disini, dari balik nash-nash itu.
v
Sesungguhnya orang-orang beriman itu
dibebani dengan tugas memberikan pengarahan hidayah kepada keluarganya dan
memperbaiki rumah tangganya. Hal ini sebagaimana dia pun dibebani dengan tugas
mengarahkan dirinya sendiri dengan hidayah dan memperbaiki hatinya dan dirinya
sendiri.
Sesungguhnya Islam itu merupakan
agama keluarga, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya dalam surah
Ath-Thalaaq. Oleh karena itu, Islam menetapkan beban tugas dalam keluarganya
dan kewajibannya dalam rumah tangganya. Rumah tangga seseorang muslim merupakan
benih kaum muslimin, dan ia merupakan sel yang darinya akan terhimpun sel-sel
lain sehingga membentuk tubuh yang hidup... yaitu masyarakat yang Islami.
Sesungguhnya satu rumah merupakan
benteng dari benteng-benteng akidah Islam. Oleh karena itu, benteng itu harus
saling menopang dan mengokohkan dari dalam dirinya sendiri. Setiap individu di
dalamnya harus menghalau serangan yang mengancamnya sehingga ia tidak dapat
dimasuki oleh musuh manapun. Bila tidak demikian, maka akan mudah bagi musuh
untuk menyerang dari dalam benteng itu. Sehingga, setiap pengetuk pintu akan
mudah masuk dan para penyerang akan leluasa menyerang dan mengancam.
Kewajiban seorang mukmin yang paling
utama adalah mengarahkan tentang dakwah kepada rumah tangga dan keluarganya.
Sudah merupakan kewajibannya untuk mengamankan benteng dari rumah tangganya
dari dalam. Juga sudah merupakan kewajibannya untuk menghalau segala sumber-sumber
konflik dan kekacauan di dalamnya sebelum ia bertolak lebih jauh untuk
berdakwah keluar dari rumah tangganya.
Merupakan keharusan dan kewajiban
memiliki ibu rumah tangga yang muslimah, karena seorang ayah yang muslim saja
belum mampu mengamankan benteng rumah tangga itu. Jadi, harus ada seorang ayah
dan ibu yang melaksanakan dan bangkit untuk mengemban kewajiaban dakwah seperti
itu. Juga dibutuhkan anak-anak untuk ikut serta baik laki-laki maupun wanita.
Karena tanpa itu, segala usaha orang untuk membentuk masyarakat Islami dengan
komunitas beberapa laki-laki saja menjadi sia-sia. Pasalnya, wanita-wanita pun
harus ikut serta dalam berperan di masyarakat untuk menjaga generasi yang
tumbuh. Generasi yang merupakan benih-benih yang akan melanjutkan perjuangan di
masa akan datang dan merupakan wujud hasil dari buah yang dicapai.
Oleh karena itu, Al-Quran itu turun
untuk para lelaki dan wanita. Ia mengatur rumah tangga dan meluruskannya untuk
mengemban manhaj yang Islami. Al-Quran itu membebankan kepada orang-orang yang
beriman tanggungjawab keluarganya sebagaimana ia pun membebankan kepada mereka
tanggungjawab atas diri sendiri.
“Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...”
(At-Tahrim:
6)
Inilah perkara yang harus disadari
dengan sebaik-baiknya oleh setiap dai yang berdakwah kepada Islam. Sesungguhnya
usaha pertama yang harus diarahkan adalah kepada istri (ibu rumah tangga),
anak-anak dan keluarga secara umum. Perhatian yang cukup harus ditujukan dalam
membina wanita-wanita muslimah untuk menciptakan rumah tangga yang Islami.
Setiap laki-laki yang ingin mendirikan rumah tangga yang Islami agar mencari
dulu wanita yang muslimah. Karena, bila tidak demikian, maka dia akan terlambat
sangat lama dalam membina masyarakat yang Islami. Dan, bangunan masyarakat
pun akan selalu digerogoti oleh
kekacauan dan gangguan.
Dalam komunitas masyarakat muslim
pertama, segala urusan lebih mudah daripada dalam komunitas kita pada saat ini.
Masyarakat muslim telah terbentuk di Madinah yang didominasi oleh ajaran Islam.
Islam telah mendominasi seluruh aspek kehidupan disana, dan ia pun menguasainya
dengan ajaran syariatnya yang muncul dari ideologinya itu.
Rujukan utama dalam masyarakat itu,
yaitu rujukan laki-laki dan wanita, adalah Allah dan RasulNya, juga kepada hukum Allah dan hukum rasulNya. Bila telah
datang keputusan hukum itu, maka ia merupakan keputusan final. Dengan
terwujudnya masyarakat demikian, dimana dominasi ideologi Islam dan tradisinya
atas segala aspek kehidupan, maka urusannya menjadi mudah bagi wanita untuk
membentuk dirinya sesuai yang dikehendaki oleh Islam. Juga menjadi mudah bagi
para suami untuk menasehati istri-istri mereka dan mendidik anak-anak mereka di
atas manhaj yang Islami.
Namun, kita saat ini berada dalam
sikap yang plin-plan. Kita hidup dalam zaman jahiliah. Yaitu, jahiliah
masyarakat, jahiliah hukum, jahiliah akhlak, jahiliah tradisi, jahiliah sistem,
jahiliah adab dan jahiliah kebudayaan juga.
Wanita saat ini berinteraksi dengan
masyarakat jahiliah itu. Mereka merasa sangat berat memikul beban ketika ingin
menyerukan Islam. Atau, ketika mereka mendapat petunjuk dari usaha sendiri,
atau dia ditunjuki oleh suaminya, saudaranya, atau bapaknya.
Didalam masyarakat Islami di
Madinah, semua masyarakat berhukum kepada ideologi yang sama, hukum yang sama
dan tabiat yang sama. Sedangkan, kita disini berhukum kepada suatu ideologi
yang tidak bersandar kepada kenyataan hidup dan contoh praktisnya yang tidak
tampak. Wanita dikekang dibawah beban masyarakat yang memusuhi ideologi itu
dengan permusuhan yang lebih dahsyat dari permusuhan orang pada zaman jahiliah
yang membabi buta. Dan, tidak disangsikan lagi bahwa tekanan masyarakat dan
tradisinya terhadap perasaan wanita lebih berat berlipat-lipat daripada tekanan
terhadap perasaan laki-laki.
Oleh
karena itu, bertambah pula kewajiban setiap laki-laki mukmin. Sesungguhnya
merupakan kewajibannya untuk melindungi dirinya dari neraka. Kemudian kewajiban
selanjutnya adalah menjaga keluarganya yang berada dibawah tekanan yang membabi
buta dan keras itu.
Maka seyogianyalah setiap laki-laki
menyadari beban berat yang dipikulnya. Sehingga, dia harus mengeluarkan usaha
yang berlipat-lipat dibandingkan usaha yang dikeluarkan oleh generasi muslim
pertama. Pasalnya, itu merupakan kewajiban fardhu ‘ain bagi orang-orang yang
ingin membina keluarga yang Islami untuk mencari penjaga bentengnya, dimana dia
juga mengambil pandangan ideologinya dari sumber yang sama dengan sumber dimana
dia sendiri mengambilnya yaitu... Islam.
Dalam hal ini, dia akan banyak
berkorban. Dia harus mengorbankan segala daya tarik yang menipu pada wanita.
Dia harus mengorbankan pilihannya yang memilih wanita berparas cantik, namun
hatinya busuk dan jahat. Dia harus mengorbankan pilihannya yang memilih wanita
yang jelita dan memesona penampilannya, namun ia adalah sampah masyarakat.
Pada
saat itulah dia dapat menentukan pilihan dan mencari wanita yang memiliki
keyakinan agama yang akan membantunya dalam membina rumah tangga yang Islami
dan membangun benteng yang Islami. Sudah menjadi kewajiban fardhu ‘ain atas
setiap ayah dari orang-orang beriman yang menginginkan kebangkitan Islam, untuk
mengetahui bahwa sel-sel dan benih-benih bagi kebangkitan itu tersimpan dalam
tangan-tangan mereka. Sehingga, mereka harus mengarahkan anak-anak mereka baik
laki-laki maupun wanita dengan dakwah, tarbiyah pendidikan) dan i’dad persiapan
sebelum orang lain bertindak. Juga agar mereka menyambut dan merespon panggilan
Allah,
“Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...” (At-Tahrim:
6)
Mari kita kembali sekali lagi, pada
kesempatan ini, kepada tabiat Islam yang menentukan bahwa berdirinya kaum
muslimin yang dibangun atas dominasi ajaran Islam, dan diatasnya berdiri
hakikat wujudnya yang sejati; haruslah berdiri diatas fondasi masyarakat yang
berkarakter. Islam adalah akidahnya. Islam adalah sistemnya. Islam adalah
syariatnya. Islam adalah manhajnya yang sempurna dan total yang darinya
bersumber segala pandangan dan ideologinya.
Masyarakat seperti inilah yang
menjamin wadah terpeliharanya pandangan yang Islami dan membawanya kedalam
jiwa-jiwa kaum muslimin. Juga membelanya dari segala tekanan masyarakat
jahiliah sebagaimana ia juga menjaganya dari fitnah kekejian dan penyiksaan.
Dengan demikian, jelaslah urgensi
pembentukan kaum muslimin yang didalamnya wanita dan pemudi muslimah hidup yang
melindunginya dari segala tekanan masyarakat jahiliah. Kemudian pemudi muslimah
pun menemukan pasangannya dalam benteng islami itu yang dengannya bersama
orang-orang yang semisal dengannya terbentuklah pasukan Islam yang kuat.
Sesungguhnya pembentukan kaum
muslimin itu adalah kewajiban, sekali-kali bukan merupakan perkara yang sunnah.
Jamaah itulah yang akan menjaga dan saling menasihati dengan ajaran Islam,
memegang fikrahnya, akhlaknya, adabnya dan persepsi-persepsinya. Jamaah itu
hidup dengan berpegang kepada Islam dalam bermuamalah antar mereka. Sehingga,
tumbuhlah generasi yang terlindungi dari segala bahaya jahiliah.
v
Berjuang Melawan Musuh
Untuk
menjaga komunitas kaum muslimin yang pertama, Rasulullah diperintahkan untuk
berjuang melawan para musuhnya.
“Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan
orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah
jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.”
(At-Tahrim: 9)
Ayat ini merupakan selipan yang sangat
tinggi makna dan nilainya setelah sebelumnya telah ada perintah kepada
orang-orang yang beriman agar menjaga diri mereka sendiri dan keluarganya dari
neraka. Juga setelah menyerukan mereka untuk bertobat nasuha yang akan
meleburkan dosa-dosa mereka dan memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir
dibawahnya sungai-sungai.
Selipan ayat ini memiliki maknanya dan
nilainya tersendiri dalam menjaga wadah yang dapat melindungi dari siksaan
neraka. Sehingga, ia tidak meremehkan unsur-unsur yang merusak, menyimpang dan
zalim, yang pasti akan menyerang pasukan Islam dari luar sebagaimana
orang-orang kafir telah melakukannya. Atau menyerangnya dari dalam sebagaimana
orang-orang munafik telah melakukannya.
Ayat diatas menghimpun antara
orang-orang kafir dan orang-orang munafik berkenaan dengan perintah untuk
berjihad dan bersikap keras terhadap mereka. Karena, kedua kelompok ini
masing-masing memiliki peran yang sebanding dalam mendatangkan ancaman dan
bahaya bagi pasukan Islam dalam menghancurkan dan mencerai beraikannya. Oleh
karena itu, berjihad melawan mereka merupakan jihad yang dapat menjaga dan
melindungi dari siksa api neraka. Dan, pembalasan bagi orang-orang munafik itu
adalah sikap keras dan tanpa belas kasihan dari Rasulullah dan orang-orang yang
beriman didunia ini.
“Tempat mereka adalah
jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.”
Demikianlah
betapa serasinya penelusuran ini antara ayat-ayatnya dengan
arahan-arahannya.sebagaimana secara umum ia juga sangat serasi dengan
penelusuran pertama yang ada dalam arahan redaksi ayat.
