Sabtu, 31 Agustus 2013

TAFSIR FII ZHILALIL QURAN

Surat At-Tahrim ayat 6-9

Memelihara Diri dan Keluarga dari Siksaan Neraka
            Dalam pengaruh kasus yang sangat mendalam pada jiwa-jiwa kaum muslimin ini, Al-Quran mewanti-wanti orang-orang yang beriman agar menunaikan kewajiban mereka dalam rumah tangga mereka baik yang menyangkut pendidikan, pengarahan, maupun peringatan. Sehingga, mereka dapat menyelamatkan diri mereka dan keluarga mereka dari api neraka. Al-Quran juga menggambarkan tentang beberapa peristiwa yang terjadi dalam neraka dan keadaan orang-orang kafir didalamnya. Dan, dalam pengarahan dan ajakan kepada tobat yang muncul dalam arahan tentang kasus diatas, redaksi ayat menyerukan kepada orang-orang yang beriman untuk bertobat. Ia juga menggambarkan tentang surga yang menanti orang-orang yang bertobat. Kemudian ia mengajak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berjihad melawan orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Inilah bagian kedua dari kandungan surah ini.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارً‌ا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَ‌ةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّـهَ مَا أَمَرَ‌هُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُ‌ونَ ﴿٦﴾ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ كَفَرُ‌وا لَا تَعْتَذِرُ‌وا الْيَوْمَ ۖ إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ﴿٧﴾ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّـهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَىٰ رَ‌بُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ‌ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِ‌ي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ‌ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّـهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ ۖ نُورُ‌هُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَ‌بَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَ‌نَا وَاغْفِرْ‌ لَنَا ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ‌ ﴿٨﴾ يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ‌ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ‌ ﴿٩﴾
Ayat 6: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Ayat 7: “Hai orang-orang kafir, janganlah kamu mengemukakan uzur pada hari ini. Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan menurut apa yang kamu kerjakan.”

Ayat 8: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu".

Ayat 9: “Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali. “

Sesungguhnya beban tanggungjawab seorang mukmin dalam dirinya dan kelurganya merupakan beban yang sangat berat dan menakutkan. Sebab, neraka telah menantinya disana, dan dia beserta keluarganya terancam dengannya. Maka, merupakan kewajibannya membentengi dirinya dan kelurganya dari neraka ini yang selalu mengintai dan menantinya.

Sesungguhnya ia adalah neraka dan api yang menyala-nyala serta membakar hangus,
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. . .”

            Manusia didalam neraka itu sama persis dengan batu; dalam kehinaan batu, dalam nilai batu yang murah dan rendah, dan dalam kondisi batu yang terabaikan tanpa penghargaan dan perhatian sama sekali. Alangkah sadis dan panasnya api neraka yang dinyalakan bersama dengan batu-batu! Alangkah pedihnya azab yang dihimpun dengan kerasnya sengatan kehinaan dan kerendahan! Setiap yang ada didalamnya dan setiap yang berhubungan dengan sangat seram dan menakutkan,

“. . .Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, . . “
            Tabiat para malaikat itu sesuai dengan tabiat azab yang diperintahkan dan diserahkan kepada mereka untuk menimpakannya.

“. . .yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)

            Diantara karakter mereka adalah ketaatan mutlak terhadap perintah Allah atas mereka. Dan, diantara karakter mereka adalah mampu melaksanakan segala yang diperintahkan kepada mereka oleh Allah. Mereka dengan segala tabiat bengis, kejam dan keras mereka diserahkan tugas untuk melaksanakan azab neraka yang keras dan kejam. Maka hendaklah setiap mukmin melindungi dirinya dan keluarganya dari azab neraka.

            Dan merupakan kewajiban setiap mukmin melindungi dan membentengi dirinya dan keluarganya dari neraka ini, sebelum kesempatan itu sirna dan sebelum alasan dan uzur itu tidak bermanfaat lagi diutarakan. Lihatlah betapa banyak orang-orang kafir yang mengemukakan uzur mereka pada saat itu, padahal mereka sedang berdiri menghadapi azab itu. Sehingga, alasan dan uzur mereka tidak diterima lagi dan merka pun ditimpa oleh keputusasaan.

“Hai orang-orang kafir, janganlah kamu mengemukakan uzur pada hari ini. Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan menurut apa yang kamu kerjakan.” (At-Tahrim: 7)

Jangan lagi kalian beralasan dan mengutarakan uzur kalian hari ini, karena hari ini bukanlah hari mengemukakan alasan dan uzur. Namun hari ini adalah hari pembalasan atas apa yang telah dikerjakan oleh manusia. Dan, kalian telah mengetahui wahai orang-orang kafir bahwa pembalasan atas kalian adalah neraka ini.

v   

Lantas bagaimana orang-orang yang beriman memelihara diri dan keluarga mereka dari api neraka ini? Sesungguhnya Al-Quran menjelaskan jalannya dan memberikan harapan yang sangat mendalam kepada mereka,

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu". (At-Tahrim: 8)
            Inilah jalan itu... tobat nasuha... yaitu tobat yang menjernihkan hati, membersihkannya, dan memurnikannnya. Kemudian ia tidak mengkhianatinya dan tidak mencuranginya.
            Ia adalah tobat dari maksiat dan dosa, yang dimulai dengan penyesalan atas segala yang terjadi sebelumnya, dan berlanjut dengan amal shaleh dan ketaatan. Pada saat itulah hati menjadi jernih, murni, dan bersih dari noda-noda dosa dan pengaruh-pengaruh maksiat. Kemudian menganjurkan dan mendorongnya untuk selalu berbuat amal shaleh. Inilah yang disebutkan sebagi tobat nasuha, yaitu tobat yang selalu mengingatkan hati setelah itu dan selalu memurnikannya sehingga tidak kembali kepada dosa-dosa.
Jika tobat dilakukan demikian, maka terbukalah harapan Allah meleburkan dosa-dosa orang-orang yang beriman dan memasukkan mereka ke dalam surga, pada hari dimana orang-orang kafir terhina sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Allah tidak menghinakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang beriman bersamanya.
Sesungguhnya itu merupakan rangsangan yang mendalam dan kemuliaan yang besar, ketika Allah memasukkan dan menghimpun orang-orang yang beriman bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga menjadikan mereka semua dalam satu barisan yang mendapatkan anugerah kemuliaan pada hari yang menghinakan orang-orang kafir itu. Kemudian Allah menjadikan bagi mereka cahaya,  
“...sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka,...”
            Suatu cahaya yang dengannya mereka dapat mengenal segala sesuatu pada hari yang dahsyat, terguncang, sulit dan mencekam. Suatu cahaya yang dengannya mereka mendapat petunjuk dalam keramaian yang tiada tara. Suatu cahaya mereka memancar dihadapan dan disebelah kanan mereka yang mengantar mereka ke surga pada akhir langkah.
            Walaupun dalam keadaan mencekam, ketakutan, dan kekerasan, mereka tetap diilhami untuk berdoa kehadirat Allah,
“...Sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (At-Tahrim: 8)
            Ilham doa pada situasi yang mengunci mulut dan menggugurkan hati itu, merupakan tanda diterimanya doa tersebut. Pasalnya, tidak mungkin Allah mengilhami doa ini kepada orang-orang yang beriman, melainkan qadar-Nya telah menetapkan bahwa doa itu pasti makbul dan mendapati jawaban dari-Nya. Jadi, doa disini merupakan anugerah yang diberikan Allah atas mereka disamping anugerah Allah dengan kemuliaan dan cahaya.
            Jadi, betapa jauhnya perbedaan antara anugerah ini dengan neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu?!
            Sesungguhnya balasan pahala dan demikian pula pembalasan azab ini, kedua-duanya menggambarkan beban tanggung jawab seorang mukmin dalam menjaga dirinya dan keluarganya dari api neraka. Juga dalam mencapai kenikmatan disurga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai.
            Dalam nuansa kasus diatas yang terjadi dalam rumah tangga Rasulullah, kita dapat mengetahui isyarat yang dimaksudkan disini, dari balik nash-nash itu.
v  
            Sesungguhnya orang-orang beriman itu dibebani dengan tugas memberikan pengarahan hidayah kepada keluarganya dan memperbaiki rumah tangganya. Hal ini sebagaimana dia pun dibebani dengan tugas mengarahkan dirinya sendiri dengan hidayah dan memperbaiki hatinya dan dirinya sendiri.
            Sesungguhnya Islam itu merupakan agama keluarga, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya dalam surah Ath-Thalaaq. Oleh karena itu, Islam menetapkan beban tugas dalam keluarganya dan kewajibannya dalam rumah tangganya. Rumah tangga seseorang muslim merupakan benih kaum muslimin, dan ia merupakan sel yang darinya akan terhimpun sel-sel lain sehingga membentuk tubuh yang hidup... yaitu masyarakat yang Islami.
            Sesungguhnya satu rumah merupakan benteng dari benteng-benteng akidah Islam. Oleh karena itu, benteng itu harus saling menopang dan mengokohkan dari dalam dirinya sendiri. Setiap individu di dalamnya harus menghalau serangan yang mengancamnya sehingga ia tidak dapat dimasuki oleh musuh manapun. Bila tidak demikian, maka akan mudah bagi musuh untuk menyerang dari dalam benteng itu. Sehingga, setiap pengetuk pintu akan mudah masuk dan para penyerang akan leluasa menyerang dan mengancam.
            Kewajiban seorang mukmin yang paling utama adalah mengarahkan tentang dakwah kepada rumah tangga dan keluarganya. Sudah merupakan kewajibannya untuk mengamankan benteng dari rumah tangganya dari dalam. Juga sudah merupakan kewajibannya untuk menghalau segala sumber-sumber konflik dan kekacauan di dalamnya sebelum ia bertolak lebih jauh untuk berdakwah keluar dari rumah tangganya.
            Merupakan keharusan dan kewajiban memiliki ibu rumah tangga yang muslimah, karena seorang ayah yang muslim saja belum mampu mengamankan benteng rumah tangga itu. Jadi, harus ada seorang ayah dan ibu yang melaksanakan dan bangkit untuk mengemban kewajiaban dakwah seperti itu. Juga dibutuhkan anak-anak untuk ikut serta baik laki-laki maupun wanita. Karena tanpa itu, segala usaha orang untuk membentuk masyarakat Islami dengan komunitas beberapa laki-laki saja menjadi sia-sia. Pasalnya, wanita-wanita pun harus ikut serta dalam berperan di masyarakat untuk menjaga generasi yang tumbuh. Generasi yang merupakan benih-benih yang akan melanjutkan perjuangan di masa akan datang dan merupakan wujud hasil dari buah yang dicapai.
            Oleh karena itu, Al-Quran itu turun untuk para lelaki dan wanita. Ia mengatur rumah tangga dan meluruskannya untuk mengemban manhaj yang Islami. Al-Quran itu membebankan kepada orang-orang yang beriman tanggungjawab keluarganya sebagaimana ia pun membebankan kepada mereka tanggungjawab atas diri sendiri.
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...” (At-Tahrim: 6)
            Inilah perkara yang harus disadari dengan sebaik-baiknya oleh setiap dai yang berdakwah kepada Islam. Sesungguhnya usaha pertama yang harus diarahkan adalah kepada istri (ibu rumah tangga), anak-anak dan keluarga secara umum. Perhatian yang cukup harus ditujukan dalam membina wanita-wanita muslimah untuk menciptakan rumah tangga yang Islami. Setiap laki-laki yang ingin mendirikan rumah tangga yang Islami agar mencari dulu wanita yang muslimah. Karena, bila tidak demikian, maka dia akan terlambat sangat lama dalam membina masyarakat yang Islami. Dan, bangunan masyarakat pun  akan selalu digerogoti oleh kekacauan dan gangguan.
            Dalam komunitas masyarakat muslim pertama, segala urusan lebih mudah daripada dalam komunitas kita pada saat ini. Masyarakat muslim telah terbentuk di Madinah yang didominasi oleh ajaran Islam. Islam telah mendominasi seluruh aspek kehidupan disana, dan ia pun menguasainya dengan ajaran syariatnya yang muncul dari ideologinya itu.
            Rujukan utama dalam masyarakat itu, yaitu rujukan laki-laki dan wanita, adalah Allah dan RasulNya, juga kepada  hukum Allah dan hukum rasulNya. Bila telah datang keputusan hukum itu, maka ia merupakan keputusan final. Dengan terwujudnya masyarakat demikian, dimana dominasi ideologi Islam dan tradisinya atas segala aspek kehidupan, maka urusannya menjadi mudah bagi wanita untuk membentuk dirinya sesuai yang dikehendaki oleh Islam. Juga menjadi mudah bagi para suami untuk menasehati istri-istri mereka dan mendidik anak-anak mereka di atas manhaj yang Islami.
            Namun, kita saat ini berada dalam sikap yang plin-plan. Kita hidup dalam zaman jahiliah. Yaitu, jahiliah masyarakat, jahiliah hukum, jahiliah akhlak, jahiliah tradisi, jahiliah sistem, jahiliah adab dan jahiliah kebudayaan juga.
            Wanita saat ini berinteraksi dengan masyarakat jahiliah itu. Mereka merasa sangat berat memikul beban ketika ingin menyerukan Islam. Atau, ketika mereka mendapat petunjuk dari usaha sendiri, atau dia ditunjuki oleh suaminya, saudaranya, atau bapaknya.
            Didalam masyarakat Islami di Madinah, semua masyarakat berhukum kepada ideologi yang sama, hukum yang sama dan tabiat yang sama. Sedangkan, kita disini berhukum kepada suatu ideologi yang tidak bersandar kepada kenyataan hidup dan contoh praktisnya yang tidak tampak. Wanita dikekang dibawah beban masyarakat yang memusuhi ideologi itu dengan permusuhan yang lebih dahsyat dari permusuhan orang pada zaman jahiliah yang membabi buta. Dan, tidak disangsikan lagi bahwa tekanan masyarakat dan tradisinya terhadap perasaan wanita lebih berat berlipat-lipat daripada tekanan terhadap perasaan laki-laki.
Oleh karena itu, bertambah pula kewajiban setiap laki-laki mukmin. Sesungguhnya merupakan kewajibannya untuk melindungi dirinya dari neraka. Kemudian kewajiban selanjutnya adalah menjaga keluarganya yang berada dibawah tekanan yang membabi buta dan keras itu.
            Maka seyogianyalah setiap laki-laki menyadari beban berat yang dipikulnya. Sehingga, dia harus mengeluarkan usaha yang berlipat-lipat dibandingkan usaha yang dikeluarkan oleh generasi muslim pertama. Pasalnya, itu merupakan kewajiban fardhu ‘ain bagi orang-orang yang ingin membina keluarga yang Islami untuk mencari penjaga bentengnya, dimana dia juga mengambil pandangan ideologinya dari sumber yang sama dengan sumber dimana dia sendiri mengambilnya yaitu... Islam.
            Dalam hal ini, dia akan banyak berkorban. Dia harus mengorbankan segala daya tarik yang menipu pada wanita. Dia harus mengorbankan pilihannya yang memilih wanita berparas cantik, namun hatinya busuk dan jahat. Dia harus mengorbankan pilihannya yang memilih wanita yang jelita dan memesona penampilannya, namun ia adalah sampah masyarakat.
Pada saat itulah dia dapat menentukan pilihan dan mencari wanita yang memiliki keyakinan agama yang akan membantunya dalam membina rumah tangga yang Islami dan membangun benteng yang Islami. Sudah menjadi kewajiban fardhu ‘ain atas setiap ayah dari orang-orang beriman yang menginginkan kebangkitan Islam, untuk mengetahui bahwa sel-sel dan benih-benih bagi kebangkitan itu tersimpan dalam tangan-tangan mereka. Sehingga, mereka harus mengarahkan anak-anak mereka baik laki-laki maupun wanita dengan dakwah, tarbiyah pendidikan) dan i’dad persiapan sebelum orang lain bertindak. Juga agar mereka menyambut dan merespon panggilan Allah,
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...” (At-Tahrim: 6)
            Mari kita kembali sekali lagi, pada kesempatan ini, kepada tabiat Islam yang menentukan bahwa berdirinya kaum muslimin yang dibangun atas dominasi ajaran Islam, dan diatasnya berdiri hakikat wujudnya yang sejati; haruslah berdiri diatas fondasi masyarakat yang berkarakter. Islam adalah akidahnya. Islam adalah sistemnya. Islam adalah syariatnya. Islam adalah manhajnya yang sempurna dan total yang darinya bersumber segala pandangan dan ideologinya.
            Masyarakat seperti inilah yang menjamin wadah terpeliharanya pandangan yang Islami dan membawanya kedalam jiwa-jiwa kaum muslimin. Juga membelanya dari segala tekanan masyarakat jahiliah sebagaimana ia juga menjaganya dari fitnah kekejian dan penyiksaan.
            Dengan demikian, jelaslah urgensi pembentukan kaum muslimin yang didalamnya wanita dan pemudi muslimah hidup yang melindunginya dari segala tekanan masyarakat jahiliah. Kemudian pemudi muslimah pun menemukan pasangannya dalam benteng islami itu yang dengannya bersama orang-orang yang semisal dengannya terbentuklah pasukan Islam yang kuat.
            Sesungguhnya pembentukan kaum muslimin itu adalah kewajiban, sekali-kali bukan merupakan perkara yang sunnah. Jamaah itulah yang akan menjaga dan saling menasihati dengan ajaran Islam, memegang fikrahnya, akhlaknya, adabnya dan persepsi-persepsinya. Jamaah itu hidup dengan berpegang kepada Islam dalam bermuamalah antar mereka. Sehingga, tumbuhlah generasi yang terlindungi dari segala bahaya jahiliah.
v   
Berjuang Melawan Musuh
Untuk menjaga komunitas kaum muslimin yang pertama, Rasulullah diperintahkan untuk berjuang melawan para musuhnya.
“Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.” (At-Tahrim: 9)
Ayat ini merupakan selipan yang sangat tinggi makna dan nilainya setelah sebelumnya telah ada perintah kepada orang-orang yang beriman agar menjaga diri mereka sendiri dan keluarganya dari neraka. Juga setelah menyerukan mereka untuk bertobat nasuha yang akan meleburkan dosa-dosa mereka dan memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai.
Selipan ayat ini memiliki maknanya dan nilainya tersendiri dalam menjaga wadah yang dapat melindungi dari siksaan neraka. Sehingga, ia tidak meremehkan unsur-unsur yang merusak, menyimpang dan zalim, yang pasti akan menyerang pasukan Islam dari luar sebagaimana orang-orang kafir telah melakukannya. Atau menyerangnya dari dalam sebagaimana orang-orang munafik telah melakukannya.
            Ayat diatas menghimpun antara orang-orang kafir dan orang-orang munafik berkenaan dengan perintah untuk berjihad dan bersikap keras terhadap mereka. Karena, kedua kelompok ini masing-masing memiliki peran yang sebanding dalam mendatangkan ancaman dan bahaya bagi pasukan Islam dalam menghancurkan dan mencerai beraikannya. Oleh karena itu, berjihad melawan mereka merupakan jihad yang dapat menjaga dan melindungi dari siksa api neraka. Dan, pembalasan bagi orang-orang munafik itu adalah sikap keras dan tanpa belas kasihan dari Rasulullah dan orang-orang yang beriman didunia ini.
“Tempat mereka adalah jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.”

Demikianlah betapa serasinya penelusuran ini antara ayat-ayatnya dengan arahan-arahannya.sebagaimana secara umum ia juga sangat serasi dengan penelusuran pertama yang ada dalam arahan redaksi ayat.

Anekdot

 

كان داخل المقلمة، ممحاة صغيرة، وقلمُ رصاصٍ جميل.. ودار حوار قصير بينهما
الممحاة: كيف حالكَ يا صديقي؟
القلم: لستُ صديقَكِ!
الممحاة: لماذا؟
القلم: لأنني أكرهُكِ.
الممحاة: ولِمَ تكرهُني؟
قال القلم: لأنكِ تمحين ما أكتب.
الممحاة: أنا لا أمحو إلا الأخطاء.
القلم: وما شأنكِ أنتِ؟!
الممحاة: أنا ممحاة، وهذا عملي.
القلم: هذا ليس عملاًَ!
الممحاة: عملي نافع، مثل عملكَ.
القلم: أنتِ مُخْطِئة ومغرورة.
الممحاة: لماذا؟
القلم: لأنَّ مَنْ يكتبُ أفضلُ ممّنْ يمحو
قالت الممحاة: إزالةُ الخطأ تعادلُ كتابةَ الصواب.
أطرق القلم لحظة، ثم رفع رأسه، وقال: صدقْتِ يا عزيزتي!
الممحاة: أما زلتَ تكرهني؟
القلم: لن أكره مَنْ يمحو أخطائي
الممحاة: وأنا لن أمحوَ ما كان صوابًا.
قال القلم: ولكنني أراكِ تصغرين يوماً بعد يوم!
الممحاة: لأنني أضحّي بشيءٍ من جسمي كلّما محوْتُ خطأً.
قال القلم محزونًا: وأنا أحسُّ أنني أقصرُ مما كنت!
قالت الممحاة تواسيه: لا نستطيع إفادةَ الآخرين، إلا إذا قدّمنا تضحيةً من أجلهم.
قال القلم مسرورًا: ما أعظمَكِ يا صديقتي، وما أجمل كلامَكِ!
فَرِحتِ الممحاةُ، وفَرِح القلمُ، وعاشا صديقين حميمَيْن، لا يفترقانِ ولا يختلفان

3 BUDAYA MUSLIMAH UNJ ^^

 Budaya Muslimah UNJ

1.         GEMES (Gerakan Muslimah Berhias Syar’i)
Pada dasarnya, seorang wanita ingin selalu terlihat CANTIK bahkan menjadi yang Ter-CUANTIK dari yang CANTIK. Yup gerakan ini rmengajak seluruh wanita muslimah agar cantik dengan berpakaian yang menutup aurat sesuai dengan syariat Islam yaitu menutup seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Eeiittss.. pakaiannya tidak tipis,tidak ketat yah dear, dan biarkan jilbabmu terurai menutupi dada :)

2.         GST (Gerakan Setengah Tujuh)
Mengajak seluruh wanita untuk tidak lagi berada di lingkungan kampus maksimal pukul 18.30. Tidak lain untuk kebaikan wanita itu sendiri agar pulang ke rumah tidak terlalu larut malam. Peran kita sebagai wanita tidak hanya dikampus tetapi juga di rumah dan masyarakat, karenanya kegiatan dikampus perlu dibatasi sampai pukul 18.30 yah dear.. Sehingga kita dapat menjalankan peran dirumah juga dimasyarakat. :)

3.         Muslimah Anti Rokok
Wanita cantik dan cerdas itu wanita yang peduli dengan kesehatannya dengan tidak merokok, karena merokok hanya akan merugikan diri sendiri dan juga orang lain dear.
Rokok, ga  layaauu :D