Sabtu, 07 Mei 2011

Khidmatul Ummah

       Fakultas Bahasa dan Seni merupakan sebuah fakultas yang didalamnya terdapat berbagai macam jurusan. Dari jurusan bahasa sampai ke jurusan seni , yaitu bahasa indonesia, bahasa arab, bahasa inggris, bahasa jerman, bahasa jepang, bahasa prancis, seni musik, seni rupa, dan seni tari. Masing-masing jurusan memiliki berbagai keunikannya masing-masing, sehingga tidak heran kalau fakultas bahasa dan seni ini begitu heterogen. Dengan cukup banyaknya jurusan yang terdapat di FBS lahirlah berbagai komunitas. Seperti komunitas seni, komunitas sastra sampai komunitas study orientik.



       Disini akan dianalisis berbagai komunitas-komunitas yang terdapat di FBS. Yang masing-masing komunitas memiliki karakteristik berbeda-beda, seperti komunitas sastra yang sharing-sharing utamanya adalah bagaimana mereka dapat membuat sebuah pertunjukkan sastra sampai bagaimana mereka mempersiapkan bersama agar pertunjukkaannya dapat dinikmati dan dihargai oleh orang lain. Atau seperti komunitas seni yang obrolan utamanya mengenai seni, yang keindahannya dapat dirasakan dan dinilai orang lain, seperti juga seni rupa dengan keindahan lukisannya, seni musik dengan keindahan bunyi yang dihasilkannya dan seni tari dengan pertunjukkan gerak yang ditampilkannya. Semuanya memberi warna diFBS .


       Membicarakan sebuah komunitas maka tidak lepas dengan sebutannya sebagai anak nongkrong, karena memang yang terlihat adalah sekelompok orang yang sedangbersama sama berkumpul dalam suatu tempat. Kegiatan mereka ketika bersama pun berbeda-beda dari yang ngobrol-ngobrol,ngerokok, pacaran, sampai ada juga yang suka ngegodain orang yang lewat. Komunitas-komunitas ini bisa dipandang negatif  atau dipandang positif. Bisa dipandang negatif misalnya ketika berkumpul mereka menggunakan narkoba, ngerokok, pacaran dan hal-hal negatif lainnya. Dapat juga bernilai positif ketika mereka bersama yang dibicarakannya adalah hal-hal yang positif , seperti ngobrolin masalah kuliah, mengkonsep sebuah pertunjukkan, membuat tema atau gambar yang menarik, penuh arti dan sopan di dinding lukisannya dan juga berlatih untuk dipamerkannya dipentas.


Dari berbagai komunitas tersebut timbulnya berbagai tantangan yang harus kita hadapi, masalah-masalah yang menjadi PR kita bersama, masalah-masalah itu seperti:

1.      Keengganan mereka untuk bergabung atau terlibat langsung maupun tidak langsung dengan kegiatan kita
2.      Kurangnya acara atau kegiatan yang kita buat bersinggungan dengan kebahasaan dan kesenian
3.      Munculnya pikiran-pikiran negatif kepada mereka
4.      Kurang nyamannya mereka dengan kita dan begitu pula perasaan kurang nyamannya kita dengan mereka


       Ketika ada masalah pasti ada solusinya, seperti diturunkannya penyakit maka diturunkan pula obatnya. Banyaknya solusi dari masalah masalah yang disebutkan sebelumnya, seperti membuat sebuah acara atau kegiatan yang dapat melibatkan mereka dengan masalah-masalah yang universal bukan hanya masalah golongan saja,seperti membuat isu kemanusiaan yang terjadi pada saudara-saudara kita di palestina yang hari ini tidak hanya menjadi masalah umat islam saja tapi sudah menjadi masalah bersama tentang kemanusiaan, isu-isu umum yang dapat membuat mereka tertarik tentang islam, atau dengan mengemas acara dengan semenarik mungkin yang temanya bersinggungan dengan masalah kebahasaan dan kesenian.

     Semua strategi itu tidak akan bisa terlaksana jika dari kita masing-masing pribadi tidak melakukan pendekatan secara kultural kepada mereka. Jauh sebelumnya ketika kita ingin mengadakan acara seperti itu maka kita harus membuat pendekatan personal, buat mereka dekat dan nyaman bersama kita. Karena kebanyakan kita selama ini hanya mengemas acara saja tanpa sebelumnnya kita membangun kedekatan emosional. Kedekatan emosional dapat terbangun karena interaksi kita sehari-hari dengan mereka dan tidak bisa jika hanya ‘say hello’. Jika kita dapat menumbuhkan kepercayaan mereka maka akan muncul rasa rela, setia, loyal yang akhirnya mereka tertarik untuk datang ke acara yang sudah kita kemas semenarik mungkin.

    Seperti misalnya kita melakukan pendekatan kultural dengan orang-orang yang study orientik, kita berusaha mencari sesuatu yang membuat mereka tertarik, seperti misalnya kita terlibat langsung dengan mereka, bercampur  tapi tidak melebur, ikut diskusi-diskusi bersama mereka, lomba-lomba. Menunjukkan karya dan kompetensi kita disana, menjadi orang yang patut dicontoh minimal dalam hal akhlak. Begitupun di komunitas seni dan kesastraan, kita tunjukkan kompetensi kita dengan memaksimalkan performance kita. Setelah kita menunjukkan profesionalitasan kita, kompetensi dan isi kita dibidang tersebut, maka mereka dengan sendirinya akan menghargai kita dan percaya dengan kita,dan orang akan ikutin omongan kita.
Dimanapun dan seperti apa komunitasnya  intinya adalah dengan pendekatan kultural terlebih dahulu. Timbulkan kepercayaan mereka pada kita.

       Semoga kita sama-sama dapat mencari solusi yang terbaik dan kemudian mengaplikasikan dan merealisasikannya. Sehingga kita dapat menjadi lembaga dakwah yang benar-benar menjadi khidmatul ummah, membantu umat, menjadi wadah apresiasi mereka,khususnya warga muslim di fakultas bahasa dan seni.

wallaahu a'lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar