Waktu terus berjalan, meninggalkan goresan
goresannya. Tanpa pernah berdaya aku untuk menghentikan, menunda atau bahkan
memutar ulang setiap episode-episode kehidupan.
Suasana pagi hari ini tampak begitu lengang dan
sepi, yang terdengar hanya suara deruman kendaraan bermotor dan angin yang
menerbangkan debu dan sampah dijalanan.
Ku masih juga disini, berdiri seorang diri, di halte
tempatku biasa menanti bis yang akan mengantarkanku menuju kampus tercinta
untuk menuntut ilmu.
Perasaan bosan mulai merasuki pikiranku, rasa kantuk
pun menggelayuti kelopak mata yang tadi malam hanya tidur selama 2 jam lantaran
mengerjakan tugas kuliah, Sistem Kebut Semalam. Sesekali kudesahkan nafas
panjang, berjalan mondar-mandir. Menanti dirinya yang tak kunjung datang.
“haaa lama sekali” keluhku
Waktu sudah menunjukkan pukul 7.30 sedangkan kuliahku
masuk jam 8.00, maka kuputuskan untuk naik bis jurusan lain, yaa walaupun harus
menyambung angkot lagi nanti, tapi biarlah yang penting aku segera sampai
kekampus.
Ku berjalan setengah berlari mengejar bis berwarna
merah itu
hup...
Ku naiki tangga demi tangga bis dengan nafas yang
masih memburu hebat, mata ku pun mencari-cari bangku kosong yang belum
berpenghuni, pandanganku jatuh pada bangku barisan kedua dari depan, segera ku
menyongsongnya dengan cepat, khawatir kesambar orang.
“Alhamdulillah bisa dapet duduk” ucapku, masih
dengan nafas yang terengah-engah dan kucoba untuk atur irama nafasku.
“Alhamdulillah”
Terdengar suara lembut itu berasal dari bangku sebelah,
dia kembangkan senyum melihatku, aku pun membalas senyumannya. Seorang gadis
muda yang sepertinya sebaya denganku. Wajahnya begitu teduh dan senyumannya
begitu menentramkan.
“Segala Puji bagi Allah yang menciptakan sebaik-baik
bentuk” batinku
Kami pun berkenalan, berbagi cerita. Hanyut dalam
diskusi panjang yang menyenangkan.
Namanya Ratna, dia seorang mahasiswi semester 8
disebuah universitas negeri di Depok tak jauh dari kampusku. Universitas Impian
kata beberapa teman kampusku. Umur kami pun tidak terpaut jauh, hanya beda 2
tahun.
Aku begitu kagum dengan ka Ratna, dia cantik,
cerdas, berwibawa dan murah senyum. Kata-kata yang keluar dari bibirnya begitu
mengagumkan, dia mampu mempengaruhi siapa saja yang dia ajak bicara.
Aku iri melihat ka Ratna, dia begitu perfect.
Laki-laki mana yang tidak suka padanya. Walau sangat cantik, ka Ratna tidak
mengumbar-ngumbar auratnya, dia tutupi dengan pakaian takwa, tanda kehormatan
seorang wanita. Jilbabnya begitu rapi menutup seluruh tubuhnya, kecuali muka
dan telapak tangan.
Bis pun melaju kencang dengan gagahnya menerobos
guyuran hujan yang baru saja turun membasahi kota Depok.
Kupamit pada ka Ratna untuk turun duluan, kami
berjabat tangan dan saling tersenyum. Sikapnya begitu hangat.
Lepas turun dari bis, ku naik angkot menuju kampus,
jam sudah menunjukkan pukul 08.15. Aku telat lagi.
Selama diangkot aku baru sadar kenapa tadi tidak
meminta nomor HP ka Ratna ya, bagaimana ku bisa menghubunginya. Semoga bisa
bertemu dengannya kembali di lain waktu.
***
Beberapa hari kemudian...
Kali ini aku sengaja untuk naik bis merah itu lagi,
berharap bisa bertemu dengan ka Ratna. Ku lemparkan pandangan menyapu setiap wajah-wajah
yang ada di hadapanku, tak ku jumpai sosoknya di bis pagi ini.
Ku cari bangku didekat jendela, tempat favorit
setiap penumpang menurut ku. Karena di dekat jendela banyak sisi kehidupan yang
bisa kita saksikan. Selain bisa melihat indahnya alam kita pun dapat
menyaksikan kehidupan anak-anak jalanan, orang-orang yang berjuang
mempertahankan hidup di tengah kerasnya kehidupan, dan kehidupan-kehidupan
lainnya yang banyak memberikan pelajaran dan inspirasi. Inilah salah satu
nikmat yang dirasakan oleh orang-orang yang hobi nya jalan-jalan
sepertiku.
Ditengah ku sedang menikmati pemandangan yang ada
dibalik jendela, tiba-tiba mataku tertuju pada seorang perempuan yang berjalan
dengan terseok-terseok menggunakan tongkat untuk menyangga tubuhnya, dia hanya
memiliki satu kaki. Sosoknya makin jelas dipandanganku dan sepertinya aku tidak
asing dengan wajahnya. Kulihat ia menaiki bis yang kutumpangi, ku perjelas
penglihatanku, dan dapat ku pastikan, itu ka Ratna.
“Assalaamu’alaikum ka Ratna” ku sapa dirinya
“Wa’alaikumussalaam warohmatullaah” jawabnya sambil
tersenyum
Ku ajak ia duduk disamping ku, sambil membantunya
untuk duduk dan menaruh tongkatnya dibawah bangku. Seperti biasa, wajahnya
penuh semangat dan ceria.
Walau aku baru bertemu dengan ka Ratna sekali, tapi
aku merasa begitu dekatnya dengannya, inilah ruh-ruh yang diakrabkan oleh iman,
saudara semuslimku
“Ga nyangka y kita bisa ketemu lagi..” ucapnya ramah
“Iya ka Alhamdulillaah” ujarku
“Kamu kaget ga ngeliat aku seperti ini?” tanya nya
“eh..emm iii iya ka” jawabku gugup, tidak menyangka
ka Ratna bertanya seperti itu
“Aku begini sejak SMA Han, waktu itu aku mengalami
kecelakaan motor yang menyebabkan salah satu kaki ku harus diamputasi. Awalnya
aku begitu terpuruk melihat kondisi ku saat itu. Perasaan kesal, ingin marah dan
semua harapan serta mimpi-mimpi ku rasanya sirna, sirna karena aku tak memiliki
satu kaki. Aku sering menangis dan menyesali diri mengapa ini terjadi padaku.”
Ucapnya dengan suara yang bergetar
“Tapi ternyata banyak orang-orang yang menghiburku, teman-teman,
adik kelas dan guru-guru di SMA yang terus memberiku semangat. Tidak ada yang
menjauh, terlebih orang tua dan keluarga ku terus memotivasi dan membantu aku
untuk bangkit kembali, Alhamdulillah dari ini semua aku belajar untuk bersyukur
atas semua nikmat yang telah diberikan Alloh untukku. Benar saja ketika kita
bersyukur maka Alloh akan menambahkan nikmat-nikmatNya, setelah lulus dari SMA aku
masuk di Fakultas Kedokteran di universitas idaman hampir seluruh siswa
disekolah ku, menjadi mahasiswa berprestasi, dan kini beasiswa Jepang telah
menantiku setelah lulus nanti dari Fakultas Kedokteran, serta nikmat-nikmat
lainnya yang tak terhitung yang didapatkan oleh ku dan tidak didapatkan orang
lain. Alloh memang tak pernah mendzolimi hambaNya. Keterbatasan ini tidak
membatasi ku untuk melakukan aktivitas, bahkan aku tambah semangat untuk
memberikan manfaat yang sebanyak-banyaknya bagi orang-orang disekitarku.”
Lanjutnya penuh semangat
Aku benar-benar terenyuh mendengar kisah ka Ratna,
beliau sangat tegar menghadapi persoalan hidup yang dialaminya. Awal bertemu ka
Ratna tak sedikit pun kulihat di wajahnya yang memendam kisah sepahit ini, tak
ada wajah muram karena tidak memiliki satu kaki, matanya menunjukkan tatapan
yang optimis dan penuh percaya diri, bentuk kesyukurannya yang ia buktikan kepada
Alloh yang Maha Penyayang.
Terlebih seharusnyalah aku yang harus banyak-banyak
bersyukur, aku masih memiliki dua pasang kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memberi
dan membantu sesama, dua buah bola mata untuk melihat tanda-tanda kebesaranNya,
dua lubang hidung untuk menikmati oksigen yang Alloh kasih gratis untuk setiap
hamba-hambaNya, satu buah mulut untuk memujiNya dan masih banyak nikmat-nikmat
lainnya yang Alloh berikan untukku. Tapi aku sering mengeluh dan tak pandai bersyukur.
Maka tidak ada yang membuatku tidak pede atau
membatasi ku untuk menunjukkan potensi dan prestasiku, aku harus percaya diri
untuk melakukan kebaikan-kebaikan, aku harus membuktikan rasa syukur ku pada
Alloh, biarkanlah trauma dimasa kecil menjadi kenangan dan pelajaran berharga
untukku.
Dari ka Ratna aku belajar banyak hal, pelajaran
hidup yang membuat ku makin hidup, Ka Ratna seperti seorang kakak, sahabat
sekaligus pendidik bagiku.
Semoga Alloh meridhoi ukhuwah kita ^_^