Minggu, 17 Juni 2012

Senyum itu


Senyum itu senyum penuh makna
Senyum penuh bahasa
Bahasa kasih sayang

Walau hanya sebuah senyuman singkat
Tapi manis terasa
Seperti embun yang menetes bening dihati ini

Tatapan itu tatapan penuh arti
Tatapan penuh cinta
Walau hanya sesaat
Seakan berbicara

Membuat hati ini..
Bahagia..

Hari Pertama Kuliah


Bismillah
Saat itu kutulis kisah ini pada Senin 31 agustus 2009 pukul 14.59 WIB
Hari Pertama ku Kuliah di UNJ Rawamangun

Pukul 07.50 saya sudah sampai dikampus UNJ Rawamangun. Niatnya mau ke kosan dulu karena membawa barang yang tidak mungkin dibawa ke kelas. Berat. 
Dipintu belakang UNJ saya bertemu dengan ka Latifah seangkatan tapi beliau aslinya angkatan 07, telah melalang buana selama 2 tahun  ini. Saya telah menolak untuk ditemani kekosan karena masuk mata kuliah jam pertama, 08.00 WIB. Akhirnya ditemani juga, tak ada teman katanya, maklum masuk kuliah hari pertama. 

Keluar sudah dari gerbang UNJ belakang, yang dikenal pintu Labschool, jalan raya begitu ramai, biasalah pagi-pagi dimanapun memang begitu, hari senin pagi pula, hari pertama masuk kerja setiap pekannya. Ka Latifah mengajak untuk nyebrang langsung tanpa jembatan penyebrangan, buru-buru katanya. Saya menolak, selain tidak aman ini merupakan pesan mama untuk nyebrang menggunakan jembatan. Penyebrangan pertama kami masih selamat walaupun diklakson-klakson oleh mobil dan motor. heboh. Pada penyebrangn kedua, arus kendaraan terlihat lebih ramai dan cepat, kami mulai menyebrang, ka Latifah yang menuntun. Saya punya filling sesuatu nih

Praangg..
*salah salah, itu suara piring pecah :P

Kami tertabrak..
Tertabrak motor, kami terjatuh plus pengendara tersebut. Alhamdulillah.. ALLAH masih memberikan kami kesempatan untuk hidup. Ka Latifa cidera di bagian kepala, tangan dan betis. Saya benar-benar shock..
ALLAH… hamba takut terjadi apa-apa dengan ka Latifah dan pengendara motor itu, pengendara motor itu sengaja menjatuhkan motor nya ketika tepat di samping kami (klo dibola kya di LADING TEKEL gt, haha bener g y tulisannya :P ). Seandainya tidak, mungkin kami telah tertabrak dengan dahsyat bahkan terseret jauh atau terjadi kecelakaan beruntun.. naudzubillah..
Alhamdulillah.. ALLAH masih sangat sayang kepada kami, saya tidak tahu apakah bapak-bapak itu mengalami cedera atau tidak. Yang terlihat, papan nomor motornya terlepas, sepatu saya dua-duanya terlepas di TKP, tepat dibawah motor tersebut. Saya hanya cidera di siku tangan kanan. bengkak. Tak separah ka latifah, beliau berdarah dikepala sebelah kiri, lecet di siku kanan, bengkak di betis :(
Ya Rabb maafkan hamba..
Kami dimarahi sedikit oleh pengendara motor itu dan beberapa warga, kami bersalah banget Ya ALLAH, ini salah kami yang cukup nakal. nyesel.  Jangan dicontoh. cukuplah kami ya teman2.. ^_^

Kembalinya ke UNJ, kami langsung menuju poliklinik UNJ, mengaret sedikit masuk kuliah, padahal hari pertama. Yang ada dipikiran kami adalah periksa. Khawatir terjadi apa-apa dengan kepala ka Latifah. Poliklinik buka jam 10.00 WIB. Sedangkan ketika itu jam masih menunjukkan pukul 09.00 kurang. Kami putuskan untuk masuk kuliah, pelajaran istima untuk kelas A. setelah selesai saya baru tahu kalau saya masuk ke kelas B. Salah masuk kelas rupanya. Akhirnya jam selanjutnya saya tidak masuk kelas, Karena kelas saya masuk mata kuliah istima. 

Kami kembali lagi ke poliklinik ditemani Nuura, tapi ternyata dokter umumnya belum datang, udah gitu tidak ada dokter umum akhwat alias wanita. Kembali ke FBS, saya mencoba beranikan diri untuk bertanya ke kakak kelas ikhwan.. ka Farid namanya angkatan 08, fiuh.. bisa juga.. diutuslah ka Sarah untuk menemani kami ke KSR, semacam PMR UNJ. Diperiksa dan diobati. Alhamdulillah luka kami berdua tidak begitu parah…

Pelajaran yang amat berharga… ^___^

Indahnya Ukhuwah


Tentang sebuah persaudaraan
Persaudaraan Islam
Ukhuwah Islamiyah..

Persaudaraan memberi sebuah keoptimisan
Motivasi untuk tetap istiqomah..

Berjuang bersama
Saling mengingatkan dalam kebaikan
Saling menguatkan dikala diri rapuh tak berdaya.

Inilah indahnya sebuah persaudaraan yang dilandasi cinta karenaNya
Persaudaraan yang dipenuhi bunga-bunga cinta 
Dan disejukkan dengan hembusan kata-kata cinta
Cinta yang senantiasa bersemi di hati-hati kami

Rindu masa-masa berjuang bersama
Rindu melepas suka maupun duka
Rindu ketika mendiskusikan kondisi ladang-ladang dakwah yang masih butuh perhatian ekstra…

Sahabat perjuangan,,
Jangan pernah menyerah dan jangan pernah menyesal karena kita telah memilih jalan ini
Jalan yang sepi lagi terjal penuh rintangan. 

Senantiasa barukan niat kita 
Agar tak hilang orientasi dan lupa tujuan.

Ladang dakwah ini masih perlu digarap
Tetap semangat saudari-saudariku
Kalian bagaikan anak panah yang siap diluncurkan demi satu tujuan.

ILLAHI ROBBI.
KUATKAN KAMI
ISTIQOMAHKAN KAMI
LURUSKAN NIAT KAMI

Agar senantiasa ENGKAU ridhoi dan rahmati…
Agar senantiasa kami rasakan indahnya jatuh cinta..

Indahnya persaudaraan islam..
Ukhuwah islamiyah

Kosan


Ku coba tuk telusuri kembali  jejak jejak yang pernah ku goreskan disini
Tak banyak berubah…
Menghadirkan kembali memori itu..
Memutar video masa lalu..
Sambil sesekali tersenyum..

Siang itu…
Bagaikan langit sore..
Mendung.. 
Sesekali angin menyentuh halus jilbabku..
Sejak kemarin hingga hari ini Jakarta gerimis..
Membuatku semakin rindu…

Kusisiri jalan gang-gang kecil itu..
Menuju sebuah rumah kecil di dekat kampus..
Hingga sampailah aku disebuah kos kosan ..
Ku kembangkan senyum..
Ku tapaki satu demi satu anak tangga..
Ooohhhh…  makin berdebar hatiku

Hmm..
Ku ingin nikmati hujan disini…

Rabb…
Sampaikan salam rindu ku untuk mereka.. ^^

*Kosan Cah Ayu

Minggu, 03 Juni 2012

Syukur


Waktu terus berjalan, meninggalkan goresan goresannya. Tanpa pernah berdaya aku untuk menghentikan, menunda atau bahkan memutar ulang setiap episode-episode kehidupan.

Suasana pagi hari ini tampak begitu lengang dan sepi, yang terdengar hanya suara deruman kendaraan bermotor dan angin yang menerbangkan debu dan sampah dijalanan.
Ku masih juga disini, berdiri seorang diri, di halte tempatku biasa menanti bis yang akan mengantarkanku menuju kampus tercinta untuk menuntut ilmu.
Perasaan bosan mulai merasuki pikiranku, rasa kantuk pun menggelayuti kelopak mata yang tadi malam hanya tidur selama 2 jam lantaran mengerjakan tugas kuliah, Sistem Kebut Semalam. Sesekali kudesahkan nafas panjang, berjalan mondar-mandir. Menanti dirinya yang tak kunjung datang.
“haaa lama sekali” keluhku
Waktu sudah menunjukkan pukul 7.30 sedangkan kuliahku masuk jam 8.00, maka kuputuskan untuk naik bis jurusan lain, yaa walaupun harus menyambung angkot lagi nanti, tapi biarlah yang penting aku segera sampai kekampus.
Ku berjalan setengah berlari mengejar bis berwarna merah itu
hup...
Ku naiki tangga demi tangga bis dengan nafas yang masih memburu hebat, mata ku pun mencari-cari bangku kosong yang belum berpenghuni, pandanganku jatuh pada bangku barisan kedua dari depan, segera ku menyongsongnya dengan cepat, khawatir kesambar orang.
“Alhamdulillah bisa dapet duduk” ucapku, masih dengan nafas yang terengah-engah dan kucoba untuk atur irama nafasku.
“Alhamdulillah”
Terdengar suara lembut itu berasal dari bangku sebelah, dia kembangkan senyum melihatku, aku pun membalas senyumannya. Seorang gadis muda yang sepertinya sebaya denganku. Wajahnya begitu teduh dan senyumannya begitu menentramkan.
“Segala Puji bagi Allah yang menciptakan sebaik-baik bentuk” batinku
Kami pun berkenalan, berbagi cerita. Hanyut dalam diskusi panjang yang menyenangkan.
Namanya Ratna, dia seorang mahasiswi semester 8 disebuah universitas negeri di Depok tak jauh dari kampusku. Universitas Impian kata beberapa teman kampusku. Umur kami pun tidak terpaut jauh, hanya beda 2 tahun.
Aku begitu kagum dengan ka Ratna, dia cantik, cerdas, berwibawa dan murah senyum. Kata-kata yang keluar dari bibirnya begitu mengagumkan, dia mampu mempengaruhi siapa saja yang dia ajak bicara.
Aku iri melihat ka Ratna, dia begitu perfect. Laki-laki mana yang tidak suka padanya. Walau sangat cantik, ka Ratna tidak mengumbar-ngumbar auratnya, dia tutupi dengan pakaian takwa, tanda kehormatan seorang wanita. Jilbabnya begitu rapi menutup seluruh tubuhnya, kecuali muka dan telapak tangan.
Bis pun melaju kencang dengan gagahnya menerobos guyuran hujan yang baru saja turun membasahi kota Depok.
Kupamit pada ka Ratna untuk turun duluan, kami berjabat tangan dan saling tersenyum. Sikapnya begitu hangat.
Lepas turun dari bis, ku naik angkot menuju kampus, jam sudah menunjukkan pukul 08.15. Aku telat lagi.
Selama diangkot aku baru sadar kenapa tadi tidak meminta nomor HP ka Ratna ya, bagaimana ku bisa menghubunginya. Semoga bisa bertemu dengannya kembali di lain waktu.

***


Beberapa hari kemudian...
Kali ini aku sengaja untuk naik bis merah itu lagi, berharap bisa bertemu dengan ka Ratna. Ku lemparkan pandangan menyapu setiap wajah-wajah yang ada di hadapanku, tak ku jumpai sosoknya di bis pagi ini.
Ku cari bangku didekat jendela, tempat favorit setiap penumpang menurut ku. Karena di dekat jendela banyak sisi kehidupan yang bisa kita saksikan. Selain bisa melihat indahnya alam kita pun dapat menyaksikan kehidupan anak-anak jalanan, orang-orang yang berjuang mempertahankan hidup di tengah kerasnya kehidupan, dan kehidupan-kehidupan lainnya yang banyak memberikan pelajaran dan inspirasi. Inilah salah satu nikmat yang dirasakan oleh orang-orang yang hobi nya jalan-jalan sepertiku. 
Ditengah ku sedang menikmati pemandangan yang ada dibalik jendela, tiba-tiba mataku tertuju pada seorang perempuan yang berjalan dengan terseok-terseok menggunakan tongkat untuk menyangga tubuhnya, dia hanya memiliki satu kaki. Sosoknya makin jelas dipandanganku dan sepertinya aku tidak asing dengan wajahnya. Kulihat ia menaiki bis yang kutumpangi, ku perjelas penglihatanku, dan dapat ku pastikan, itu ka Ratna.
“Assalaamu’alaikum ka Ratna” ku sapa dirinya
“Wa’alaikumussalaam warohmatullaah” jawabnya sambil tersenyum
Ku ajak ia duduk disamping ku, sambil membantunya untuk duduk dan menaruh tongkatnya dibawah bangku. Seperti biasa, wajahnya penuh semangat dan ceria.
Walau aku baru bertemu dengan ka Ratna sekali, tapi aku merasa begitu dekatnya dengannya, inilah ruh-ruh yang diakrabkan oleh iman, saudara semuslimku
“Ga nyangka y kita bisa ketemu lagi..” ucapnya ramah
“Iya ka Alhamdulillaah” ujarku
“Kamu kaget ga ngeliat aku seperti ini?” tanya nya
“eh..emm iii iya ka” jawabku gugup, tidak menyangka ka Ratna bertanya seperti itu
“Aku begini sejak SMA Han, waktu itu aku mengalami kecelakaan motor yang menyebabkan salah satu kaki ku harus diamputasi. Awalnya aku begitu terpuruk melihat kondisi ku saat itu. Perasaan kesal, ingin marah dan semua harapan serta mimpi-mimpi ku rasanya sirna, sirna karena aku tak memiliki satu kaki. Aku sering menangis dan menyesali diri mengapa ini terjadi padaku.” Ucapnya dengan suara yang bergetar
“Tapi ternyata banyak orang-orang yang menghiburku, teman-teman, adik kelas dan guru-guru di SMA yang terus memberiku semangat. Tidak ada yang menjauh, terlebih orang tua dan keluarga ku terus memotivasi dan membantu aku untuk bangkit kembali, Alhamdulillah dari ini semua aku belajar untuk bersyukur atas semua nikmat yang telah diberikan Alloh untukku. Benar saja ketika kita bersyukur maka Alloh akan menambahkan nikmat-nikmatNya, setelah lulus dari SMA aku masuk di Fakultas Kedokteran di universitas idaman hampir seluruh siswa disekolah ku, menjadi mahasiswa berprestasi, dan kini beasiswa Jepang telah menantiku setelah lulus nanti dari Fakultas Kedokteran, serta nikmat-nikmat lainnya yang tak terhitung yang didapatkan oleh ku dan tidak didapatkan orang lain. Alloh memang tak pernah mendzolimi hambaNya. Keterbatasan ini tidak membatasi ku untuk melakukan aktivitas, bahkan aku tambah semangat untuk memberikan manfaat yang sebanyak-banyaknya bagi orang-orang disekitarku.” Lanjutnya penuh semangat
Aku benar-benar terenyuh mendengar kisah ka Ratna, beliau sangat tegar menghadapi persoalan hidup yang dialaminya. Awal bertemu ka Ratna tak sedikit pun kulihat di wajahnya yang memendam kisah sepahit ini, tak ada wajah muram karena tidak memiliki satu kaki, matanya menunjukkan tatapan yang optimis dan penuh percaya diri, bentuk kesyukurannya yang ia buktikan kepada Alloh yang Maha Penyayang.
Terlebih seharusnyalah aku yang harus banyak-banyak bersyukur, aku masih memiliki dua pasang kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memberi dan membantu sesama, dua buah bola mata untuk melihat tanda-tanda kebesaranNya, dua lubang hidung untuk menikmati oksigen yang Alloh kasih gratis untuk setiap hamba-hambaNya, satu buah mulut untuk memujiNya dan masih banyak nikmat-nikmat lainnya yang Alloh berikan untukku. Tapi aku sering mengeluh dan tak pandai bersyukur.

Maka tidak ada yang membuatku tidak pede atau membatasi ku untuk menunjukkan potensi dan prestasiku, aku harus percaya diri untuk melakukan kebaikan-kebaikan, aku harus membuktikan rasa syukur ku pada Alloh, biarkanlah trauma dimasa kecil menjadi kenangan dan pelajaran berharga untukku.
Dari ka Ratna aku belajar banyak hal, pelajaran hidup yang membuat ku makin hidup, Ka Ratna seperti seorang kakak, sahabat sekaligus pendidik bagiku.
Semoga Alloh meridhoi ukhuwah kita ^_^