Jumat, 01 Juli 2011

Resume Buku: Menuju Kemenangan Dakwah Kampus

Dakwah kampus memang memiliki kekhasannya sendiri dari dakwah-dakwah pada segmen lainnya. Ia identik dengan idealisme, semangat, dan jiwa muda. Dakwah kampus juga menjadi basis penyuplai kader. Dari dakwah kampus lahirlah kader-kader yang kemudian menjadi tulang punggung dakwah. Banyak qiyadah yang dihasilkan dari sana. Tidak salah jika kemudian dakwah kampus disebut sebagai primadona.

Menggapai kemenangan dakwah kampus dalam makna yang lebih luas. Yakni kemenangan dakwah kampus yang secara fisik terwujud dalam dua hal besar, yaitu terwujudnya masyarakat kampus madani sejahtera dan terciptanya pemerintahan kampus yang adil dan berdaulat. Masyarakat kampus madani yang dimaksud disini adalah masyarakat kampus yang hidup dalam nilai-nilai islam. Sementara pemerintahan kampus yang berdaulat berarti pemerintahan kampus yang menerapkan nilai-nilai islam dengan identitas demokratis-aspiratif, kreatif dan berdaya yang melekat padanya. Bukan sebatas pemerintahan mahasiswa, tetapi juga birokrasi kampus.

Untuk mencapai kemenangan dakwah kampus, diperlukan enam kerangka strategis yang merupakan format dakwah kampus masa depan:
1. Dakwah Prestatif: Dakwah kampus harus menjadi rahim bagi karya. Karya besar, dakwah kampus harus menjadi basis prestasi
2. Crative Majority: Dakwah kampus harus memiliki kapabilitas dalam dua hal sekaligus; kualitas dan kuantitas. Kadernya banyak dan tangguh
3. Dakwah Kaya: Dakwah kampus menjadi benar-benar kaya dalam 10 hal: Kaya hati, kaya akhlak, kaya ilmu, kaya materi, kaya kadeer, kaya visi dan cita-cita, kaya ide dan gagasan, kaya strategi dan rekayasa, kaya hubungan dan jaringan serta kaya amal.
4. Ketokohan Sosial: Menabur kiprah terbaik (KT) ditengah-tengah umat sekaligus membangun kepercayaan atau pengakuan umat terhadap kapasitas dakwah kampus.
5. Kepemimpinan Sejati: Dakwah kampus harus melahirkan para pemimpin sejak didunia kampus yang efektif dan kuat. kepemimpinan di LDK, BEM dan tempat strategis lainnya.
6. Maksimalisasi Kiprah Mujahidah Dakwah Kampus: Dakwah kepada muslimah yang jumlahnya lebih besar dan efektif.

Enam kerangka strategis dakwah kampus ini bisa dicapai dengan terlebih dahulu melakukan perbaikan internal dakwah kampus melalui dua tahap.
Tahap 1: kembali kepada ashalah dakwah kampus, menghapus trauma persepsi, berkomitmen dengan sikap terbaik.
Tahap 2: Tataran kebijakan

Kesuksesan mengelola dakwah kampus ini, dengan demikian, akan menjadi kontribusi sangat besar bagi kesuksesan dakwah secara makro. Kemenangan dakwah kampus ini, dengan demikian, adalah kemenangan awal bagi dakwah seluruhnya; di segala lini dan bidang kehidupan.

Sabtu, 07 Mei 2011

Sepenggal kisah

Hari itu…
langit membiru, begitu terasa sendu, bumi seakan menangis menyaksikan..

Kala itu…
Saat malaikat turun menghantarkan rahmat Illahi..
Kurasakan desiran hebat dihati ini, membuat ku tak berdaya..
Kawan… Kini kalian disini, bersamaku..
Tapi tempat ini begitu hening tanpa kata yang terucap, hanya tatapan cinta dan hati kita yang berbicara..
Sungguh pilu..
Tak ingin ini terjadi..
Kami tau betul, setiap pertemuan ada perpisahan..
Tapi sungguh, ini begitu berat terasa, membuat tulang-tulang ini terasa lemas berguguran..
Tiba-tiba, tangis itu pecah dikeheningan kata..
Tak sanggup lagi menahan, pelukan hangat dan tangis kehilangan menghiasi tempat ini, ungkapan-ungkapan cinta terlontarkan penuh makna..

“Kawan… jangan lupakan kami, jangan lupakan sejarah cinta kita yang telah digoreskan dengan tinta emas ini, teruskan perjuangan…” ucap salah satu sahabatku

Ooohhh.. makin teriris hati ini, bibir ku terasa kelu, tak dapat berucap apa-apa..
Hanya tangis ku yamg makin bergemuruh sesak..
Ku coba kuatkan hati, mulai mengatur irama tangisku, menata kembali hati yang berserakan ini..
Ku atur alunan nafasku, ku sapu air mata yang mengucur deras, tak tau seperti apa wajahku saat ini.. biarlah..
Kucoba untuk berucap..
ku kerahkan seluruh tenaga yang masih tersisa, ku gapai tangan sahabat-sahabatku, ku pegang erat seakan tak ingin terlepas..
seakan tak mau berpisah..
Kuyakinkan diri, ini bukanlah akhir dari segalanya..

“Suatu saat nanti, entah kapan.. kita kan dipertemukanNya kembali, dalam naungan cintaNya, yang telah menyatukan hati-hati kita, yang telah mengikatnya erat. Yakinlah, cinta yang kini kita rasakan berlandaskan cinta karenaNya, yang diridhoiNya. Dan berdoalah semoga kita dipertemukanNya dalam surga firdausNya kelak..” ucapku

Perlahan hujan itu mereda
Terlihat pancaran indah matahari mengiringi senyum kita..

Khidmatul Ummah

       Fakultas Bahasa dan Seni merupakan sebuah fakultas yang didalamnya terdapat berbagai macam jurusan. Dari jurusan bahasa sampai ke jurusan seni , yaitu bahasa indonesia, bahasa arab, bahasa inggris, bahasa jerman, bahasa jepang, bahasa prancis, seni musik, seni rupa, dan seni tari. Masing-masing jurusan memiliki berbagai keunikannya masing-masing, sehingga tidak heran kalau fakultas bahasa dan seni ini begitu heterogen. Dengan cukup banyaknya jurusan yang terdapat di FBS lahirlah berbagai komunitas. Seperti komunitas seni, komunitas sastra sampai komunitas study orientik.



       Disini akan dianalisis berbagai komunitas-komunitas yang terdapat di FBS. Yang masing-masing komunitas memiliki karakteristik berbeda-beda, seperti komunitas sastra yang sharing-sharing utamanya adalah bagaimana mereka dapat membuat sebuah pertunjukkan sastra sampai bagaimana mereka mempersiapkan bersama agar pertunjukkaannya dapat dinikmati dan dihargai oleh orang lain. Atau seperti komunitas seni yang obrolan utamanya mengenai seni, yang keindahannya dapat dirasakan dan dinilai orang lain, seperti juga seni rupa dengan keindahan lukisannya, seni musik dengan keindahan bunyi yang dihasilkannya dan seni tari dengan pertunjukkan gerak yang ditampilkannya. Semuanya memberi warna diFBS .


       Membicarakan sebuah komunitas maka tidak lepas dengan sebutannya sebagai anak nongkrong, karena memang yang terlihat adalah sekelompok orang yang sedangbersama sama berkumpul dalam suatu tempat. Kegiatan mereka ketika bersama pun berbeda-beda dari yang ngobrol-ngobrol,ngerokok, pacaran, sampai ada juga yang suka ngegodain orang yang lewat. Komunitas-komunitas ini bisa dipandang negatif  atau dipandang positif. Bisa dipandang negatif misalnya ketika berkumpul mereka menggunakan narkoba, ngerokok, pacaran dan hal-hal negatif lainnya. Dapat juga bernilai positif ketika mereka bersama yang dibicarakannya adalah hal-hal yang positif , seperti ngobrolin masalah kuliah, mengkonsep sebuah pertunjukkan, membuat tema atau gambar yang menarik, penuh arti dan sopan di dinding lukisannya dan juga berlatih untuk dipamerkannya dipentas.


Dari berbagai komunitas tersebut timbulnya berbagai tantangan yang harus kita hadapi, masalah-masalah yang menjadi PR kita bersama, masalah-masalah itu seperti:

1.      Keengganan mereka untuk bergabung atau terlibat langsung maupun tidak langsung dengan kegiatan kita
2.      Kurangnya acara atau kegiatan yang kita buat bersinggungan dengan kebahasaan dan kesenian
3.      Munculnya pikiran-pikiran negatif kepada mereka
4.      Kurang nyamannya mereka dengan kita dan begitu pula perasaan kurang nyamannya kita dengan mereka


       Ketika ada masalah pasti ada solusinya, seperti diturunkannya penyakit maka diturunkan pula obatnya. Banyaknya solusi dari masalah masalah yang disebutkan sebelumnya, seperti membuat sebuah acara atau kegiatan yang dapat melibatkan mereka dengan masalah-masalah yang universal bukan hanya masalah golongan saja,seperti membuat isu kemanusiaan yang terjadi pada saudara-saudara kita di palestina yang hari ini tidak hanya menjadi masalah umat islam saja tapi sudah menjadi masalah bersama tentang kemanusiaan, isu-isu umum yang dapat membuat mereka tertarik tentang islam, atau dengan mengemas acara dengan semenarik mungkin yang temanya bersinggungan dengan masalah kebahasaan dan kesenian.

     Semua strategi itu tidak akan bisa terlaksana jika dari kita masing-masing pribadi tidak melakukan pendekatan secara kultural kepada mereka. Jauh sebelumnya ketika kita ingin mengadakan acara seperti itu maka kita harus membuat pendekatan personal, buat mereka dekat dan nyaman bersama kita. Karena kebanyakan kita selama ini hanya mengemas acara saja tanpa sebelumnnya kita membangun kedekatan emosional. Kedekatan emosional dapat terbangun karena interaksi kita sehari-hari dengan mereka dan tidak bisa jika hanya ‘say hello’. Jika kita dapat menumbuhkan kepercayaan mereka maka akan muncul rasa rela, setia, loyal yang akhirnya mereka tertarik untuk datang ke acara yang sudah kita kemas semenarik mungkin.

    Seperti misalnya kita melakukan pendekatan kultural dengan orang-orang yang study orientik, kita berusaha mencari sesuatu yang membuat mereka tertarik, seperti misalnya kita terlibat langsung dengan mereka, bercampur  tapi tidak melebur, ikut diskusi-diskusi bersama mereka, lomba-lomba. Menunjukkan karya dan kompetensi kita disana, menjadi orang yang patut dicontoh minimal dalam hal akhlak. Begitupun di komunitas seni dan kesastraan, kita tunjukkan kompetensi kita dengan memaksimalkan performance kita. Setelah kita menunjukkan profesionalitasan kita, kompetensi dan isi kita dibidang tersebut, maka mereka dengan sendirinya akan menghargai kita dan percaya dengan kita,dan orang akan ikutin omongan kita.
Dimanapun dan seperti apa komunitasnya  intinya adalah dengan pendekatan kultural terlebih dahulu. Timbulkan kepercayaan mereka pada kita.

       Semoga kita sama-sama dapat mencari solusi yang terbaik dan kemudian mengaplikasikan dan merealisasikannya. Sehingga kita dapat menjadi lembaga dakwah yang benar-benar menjadi khidmatul ummah, membantu umat, menjadi wadah apresiasi mereka,khususnya warga muslim di fakultas bahasa dan seni.

wallaahu a'lam