Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was
Salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘Ala Aalihi wa Ashhabihi wa Man waalah, wa ba’d
Bulan ini Alhamdulillaah mendapatkan
kesempatan untuk kembali membuat resume buku, dan kali ini yang akan diresume
adalah buku “Fiqih Da’wah, Maudhu’at fi ad-Da’wa al-Harakah” yang ditulis oleh
Ustadz Sayyid Quthb.
Pada buku Fikih Dakwah ini akan kita dapati
beberapa point-point penting yaitu, pertama Alquraan Sebagai Pedoman Dakwah,
kedua Ibadah, ketiga Perang Uhud, keempat Doktrin
Pergerakan dalam Sejarah Manusia, kelima Bentuk Konsep Gerakan Islam
Langkah-langkahnya dan Tingkatannya, keenam Puncak Gerakan, ketujuh
Batas Hubungan Terakhir Antara Masyarakat Islam dan Ahli Kitab, kedelapan
Bekal Perjalanan.
Insyaa Allah disini yang akan diresume atau
mungkin lebih tepatnya merangkum :D buku Fikih Da’wah pada bagian pertama dan
kedua.
1. Alquraan Sebagai Pedoman Dakwah
Alquraan merupakan sebuah kitab
dakwah. Yang memiliki ruh pembangkit. Yang berfungsi
sebagai penguat. Yang menjadi tempat berpijak. Yang berperan sebagai penjaga,
penerang dan penjelas. Yang merupakan suatu undang-undang dan konsep-konsep
global. Dan merupakan tempat kembali satu-satunya bagi para penyeru dakwah
dalam mengambil rujukan dalam melakukan kegiatan dakwah, dan dalam menyusun
suatu konsep gerakan dakwah selanjutnya.
Alquraan memiliki potensi yang
dinamis sebagaimana alam semesta ini. Alam merupakan kitab Allah yang dapat
dilihat, sedangkan Alquraan merupakan kitab Allah yang dapat dibaca. Keduanya merupakan
satu kesaksian dan bukti atas dzat Pencipta, sebagaimana keduanya merupakan
wujud kreasi (ciptaan) di alam ini dengan segala rahasianya, yang senantiasa
bergerak dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan apa yang telah ditentukan
oleh Allah.
Dan Alquraan tetap berbicara pada
keaslian dan hakikatnya, tidak pernah mengalami perubahan dan pergantian
didalamnya. Karena itu Alquraan memiliki potensi besar dalam menghadapi
kenyataan kehidupan sekarang dan masa akan datang.
Alquraan Sebagai Petunjuk. Sesungguhnya
Alquraan ini merupakan pandangan yang dapat memberikan petunjuk dan merupakan
rahmat yang melimpah ruah buat orang-orang yang mempercayainya. Dan kebaikan
yang ditimbulkan oleh Alquraan secara menyeluruh akan tetap terjaga.
“Alquraan ini adalah merupakan
bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, (Juga sebagai) petunjuk dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-A’raf, 7:203)
Alquraan akan tetap menjadi naungan bagi segala usaha
yang dilakukan oleh kaum Muslimin. Ini adalah berkat kebenaran kitab suci itu
sendiri. Alquraan adalah satu-satunya sumber bimbingan dan penyuluhan melalui
Alquraan itulah yang dapat menanti janji Allah untuk mewujudkan satu kemenangan
dan sanggup mengatasi segala kemungkinan tipu daya yang memojokkan, baik berupa
pembunuhan, peperangan ataupun kerusakan lainnya. Dan sekali Alquraan ini ada,
selamanya akan tetap ada.
Kebenaran Alquraan dan Pandangan Ilmu
Pengetahuan. Kebenaran Alquraan adalah kebenaran terakhir yang qath’i
(pasti) dan mutlak. Sedangkan apa yang dicapai manusia dalam pembahasannya
semata-mata hanyalah sebagai sarana baginya yang pada hakikatnya bukanlah
merupakan “kebenaran akhir” dan bukan “kebenaran qath’i”.
Kasih Sayang Se-Akidah. Sesungguhnya akidah merupakan
satu kesatuan dari ketentuan-ketentuan manusia yang prinsip yang dapat
membedakannya dari alam binatang.
2.
IBADAH
Ibadah Hanya Kepada Allah. Sesungguhnya tauhid uluhiyah (ketuhanan),
tauhid Rububiyah (ketuhanan), tauhid qawamah (keteguhan,
kekokohan), tauhid mashdar syari’ah (mentauhidkan sumber hukum) dan
mentauhidkan arah yang mengharuskan manusia beragama dengan agama yang sempurna
(Islam). Adalah menyebabkan para Rasul berhak diutus untuk melaksanakan
kegiatan-kegiatan dan dakwah demi untuk mewujudkan ketauhidan tersebut.
Bahwa katauhidan beribadah dan beragama kepada Allah
semata, itu berarti menolak beribadah kepada selain Allah, yang memiliki
konsekuensi besar agar ia melakukan usaha untuk memelihara manusia dari
melakukan pengorbanan terhadap tuhan-tuhan paslu itu, dan agar ia dapat
melakukan konsentrasi penuh untuk membangun bumi ini, juga memperbaiki dan
meningkatkan taraf kehidupannya penghuni bumi ini.
Sebenarnya telah jelas ketentuan-ketentuan yang ditujukan
oleh Alquraan secara global, bahwa permasalahan-permasalahan beragama dan
mengikuti pencipta hukum yang menjelaskan mengenai ibadah adalah permasalahan
Akidah, Iman dan Islam. Bukan permasalahan paham atau politik atau
undang-undang.
Fikih Harakah dan Fikih Auraq (Fikih Pergerakan dan Fikih Stereotype). Dewasa ini orang-orang mengambil nash-nash dan hukum-hukum yang telah dibukukan, tanpa mengetahui kedua hakikat tersebut dan tanpa melihat situasi dan kondisi yang menyebabkan nash-nash itu diturunkan serta perkembangan hukum-hukumnya. Sedang hukum-hukum itu sendiri dihidupkan dan dipakai oleh orang-orang dalam pelaksanaannya.
Fikih Harakah dan Fikih Auraq (Fikih Pergerakan dan Fikih Stereotype). Dewasa ini orang-orang mengambil nash-nash dan hukum-hukum yang telah dibukukan, tanpa mengetahui kedua hakikat tersebut dan tanpa melihat situasi dan kondisi yang menyebabkan nash-nash itu diturunkan serta perkembangan hukum-hukumnya. Sedang hukum-hukum itu sendiri dihidupkan dan dipakai oleh orang-orang dalam pelaksanaannya.
Fikih Harakah (Fikih Pergerakan) secara mendasar berbeda
sekali dengan Fikih Auraq (“Fikih Stereotype”, “Fikih Kerobot”), yang asal
pengambilan dan tempat pijaknya secara bersama-sama adalah nash-nash, sedang
fikih auraq hanya mengambil dari nash-nash yang ada.
Inilah satu-satunya jalan; tidak ada disana jalan lain,
juga tidak ada disana jalan yang lebih mudah untuk melakukan
perubahan/perombakan terhadap rakyat secara menyeluruh dengan Islam, sejak awal
kemunculan dakwah dengan lisan dan dengan penjelasan hukum-hukum islam. Namun,
ini hanyalah sebagai “cita-cita” belaka! Sebab, rakyat masih tetap tidak mau
dirubah/dipindah/dibawa dari kejahiliyahan dan menyembah ssetan-setan, kepada
Islam yang hanya menyembah Allah Yang Maha Esa, kecuali harus melalui jalan panjang
yang didalamnya dakwah Islam tetap berjalan dan diserukan dalam setiap
kesempatan.
“Yaitu, dimulai dari individu, lalu diikuti oleh generasi perintis/penerus. Generasi perintis/penerus ini kemudian bergerak menghadapi kejahiliyahan untuk membantu apa yang perlu dibantu, sehingga Allah menghukumi diantara mereka dan kaumnya dengan kebenaran, dan memberikan kemungkinan-kemungkinan kepada generasi perintis/penerus diatas bumi, dan kemudian
“Manusia
masuk agama Allah dengan berbondong-bondong.”
(QS.
An-Nashr, 100:2)
Dan agama Allah itu merupakan konsep Syariat dan
undang-undang yang tidak merelakan manusia beragama dengan selainnya:
“Barangsiapa
mencari agama selain agama Islam, maka ia tidak akan diterima (agama itu)
daripadanya”
(QS.
Ali Imran,3:85)
Alquraan dan Ash Sunnah merupakan pedoman kita dalam
berdakwah. Alquraan sebagai petunjuk yang merupakan sumber ilmu pengetahuan,
pendidkan dan pengarahan. Sehingga menjadi tempat kembali bagi penyeru dakwah
dalam mengambil rujukan untuk melakukan kerja-kerja besar dakwahnya. Yang senantiasa
dekat dengan Alquraan membacanya,
menekuninya, mentadaburinya dan mengamalkannya, sehingga lahirlah pribadi-pribadi
tangguh yang Qurani. Dakwah kita menyeru manusia kepada tauhid, bahwa inti dari
ajaran islam adalah mentauhidkan Allah, yaitu meng-ESA-kan Allah, beribadah hanya
kepada Allah Ta’ala.
Allahu ghoyatuna
ArRasul qudwatuna
Alquraan dusturuna
Al jihadu sabiluna
Al mautu fisabilillaah
Semoga yang sedikit ini dapat bermanfaat dan dapat
menjadi setruman untuk kita senantiasa belajar dan haus akan ilmu pengetahuan,
berharap pembaca dapat membaca utuh buku yang dapat menginspirasi dan
menggerakkan ini, baik dengan membelinya, meminjamnya maupun mencari E-booknya.
Wallaahu
a’lam